Minggu, 20 November 2011

Ma'afkan Kami

Ma'afkan kami (Kia, Dylan, Adit dan Gita), rupanya kami hanya purwa rupa yang buruk untuk masa depan kalian. Terlalu memikirkan keinginan kami tanpa kami sadari kalian akan menuai karma apa yang telah kami lakukan.
Tidak adil rasanya jika kalian harus menanggung beban karena ketidak dewasaan kami. Karena kami berbohong dan berdusta karena nafsu kami.
Dusta kami akan kami tuai, sudi kiranya Tuhan yang maha adil tidak membebankan kepada mereka. Biarkan mereka tumbuh tanpa harus menjadi seperti kami.
ma'afkan kami

seberapa manusia kah anda?

Ketika sedang membeli kebutuhan konveksi untuk usaha kecil saya yang mulai merangkak tertatih-tatih. Dua orang pengamen menghampiri lalu mengapit sisi kanan kiri. Dengan lantang mereka mulai meneriakkan lagu kebangsaan cinta yang tertindas dan mendayu-dayu. Tentu saja, transaksi yang tengah dilakukan sedikit terganggu. Otomatis kami berdua membesarkan volume suara, tapi rasanya percuma karena kedua pengamen itu tak kalah gesit dengan membesut gitarnya, yang saya tidak tahu melodi apa, karena rasanya tidak ada harmonisasi antara keduanya. Kami terdiam, saya dan si akang yang melayani, karena tahu usaha kami akan sia-sia. walaupun di etalase dan pintu masuk toko tertulis dengan jelas "NGAMEN GRATIS" dan menurut pengetahuan saya, sekencang apa pun ada menyanyi, itu GRATIS!
Sungguh tidak nyaman dalam kondisi himpitan teriakan mereka sehingga saya mengambil selangkah mundur dan langsung berpindah posisi dengan memberi kode kepada si akang, transaksi dilakukan dengan pindah lokasi.
"Hargai kami dong Bu, kami juga manusia!" hardik salah satunya dilanjut omelan dengan ungkapan-ungkapan pedas sehingga menyita perhatian pengunjung yang lain sebagai protes dengan sikap saya yang meninggalkan mereka tengah bernyanyi atau meracau.
Saya berusaha untuk tidak mengindahkan, dan melanjutkan transaksi. Rupanya sikap ini membuat dia semakin kesal lalu menghampiri saya untuk memberi kuliah tentang kemanusiaan.
Dan kali ini dia berhasil mendapatkan perhatian saya, tetapi tidak uang saya, walaupun dalam bentuk recehan. Akang pelayan terlihat ketakutan, jujur dalam hati pun saya takut. Was-was jika keluar dari toko ini, mereka akan membawa seluruh anggota komunitas dan menyerang saya, melakukan tindakan kriminal yang menakutkan atau melanjutkan kuliah ke tingkat berikutnya. Semua bisa saja terjadi.
Selama dia memberi kuliah pikiran saya pun melayang, seberapa manusia kah anda? mengapa dia menuntut diperlakukan sebagai manusia kepada saya, apakah dia tidak memperlakukan dirinya sendiri sebagai manusia.
Sebagai manusia saya menghargai si akang pelayan yang bekerja melayani semua pembeli yang rata-rata ibu-ibu super cerewet dengan akurasi penilaian terhadap barang cacat yang tinggi. mengapa dia sendiri tidak memperlalukan dirinya sebagai manusia, misalnya dengan memakai pakaian yang lengkap, membaca pengumuman yang terpampang dengan jelas bahwa "NGAMEN GRATIS", bertindak sopan. sesusah itu kah diri kita memperlakukan diri menjadi manusia?
oh, how human are you? kurang manusia apa coba

Minggu, 06 November 2011

Diam


Kiranya apa yang akan Tuhan tunjukan, semua berhenti dan mendadak diam. Seribu pertanyaan bersahut-sahutan dalam benak. Mungkin itu bukan pertanyaan tapi ungkapan keluh kesah karena dunia mendadak diam.
Ketika terdiam, bersungut-sungut mengutuk keadaan. Ketika terdiam banyak hal yang dapat jadi perkara tuk disalahkan. Ketika terdiam semua berubah menjadi kesal. Terpuruk dengan waktu dalam diam.
Tengoklah ke dalam bukan keluar 
Dalam diam mungkin kau temukan sepotong jawaban. Diberikan waktu sesaat dalam diam agar kau menengok ke dalam jangan memikirkan keluar. Tengoklah jauh ke dalam, setelah sekian jauh engkau berjalan. Sudikah kiranya engkau beristirahat sejenak, dalam diam.

(catetan macet total Kopo Caringin - Kopo Cibolerang sajam satengah, November 4, 2011)