Kamis, 24 Desember 2015

It is Me, It is You, It is about Mokamula In Sistalisius

Bagi sebagian orang, sebuah dompet bukan hanya tempat untuk menyimpan uang dan kartu identitas. Salah satu contoh orang yang dimaksud tersebut adalah  yaaaa.... si saya ini. Dompet itu adalah benda paling krusial. Benda yang akan menemani kemana kita pergi. Kalau orang ketinggalan gadget itu mati gaya, nah kalau ketinggalan dompet mati kutu! Laaah, koq jadi bawa-bawa makhluk hidup lain ini mah.
Anyway, sebagai orang yang setia (ehmm...,) rasanya malas kalau harus pergi bongkar muat dulu dompet jika akan mengikuti satu event. Maunya satu untuk semua semua untuk satu, seperti motonya Three Musketeer itu,  one for all and all for one. Apalagi jika pada saat proses bongkar muat itu ada yang tercecer. Halaaah bikin sensi biasanya.

Sabtu, 28 November 2015

"Boleh Peluk Bi Gak?"

Kado ulang tahun Pink ke tujuh belas memang tidak semanis kata sweet yang tersemat dalam sweet seventeen. Pink itu keponakanan saya yang tergabung dalam kelompok the bunch of the beuceuhs lapis pertama. Sengaja keponakan saya yang banyak itu, saya bagi dalam beberapa lapis. Jadi ada berapa lapis??? ratusan. Ya, kurang lebih segituh la yaaah.


seventeen
Gambarnya milik dia

Dulu, ketika saya merayakan sweet seventeen yang pertama

**tanya : Lho emang sweet seventeen seperti PON ya? Ada yang pertama, kedua, ketiga, kesekian?  
    jawab: JANGAN NANYA!!!

Sweet seventeen terpaksa saya rayakan bersama soal-soal ujian kelulusan. Memang saya yang ujian tapi justru Mamah yang galau tak berkesudahan sampai lupa kalau saat itu saya juga sweet seventeen. Takut kalau gak lulus saya jadi frustasi. Ceunah. Siapa yang ujian, siapa yang galau. Jadi geje. Padahal mah yah, masih banyak ujian hidup yang bisa bikin frustasi. Seperti melihat Adam Levine nikahi model Victoria Secret. Itu juga sudah cukup bikin frustasi.

Rabu, 07 Oktober 2015

Bobolah Pada Tempatnya.





Tidur pada tempatnya
Sumber foto dari sini


Selama ini anjuran bobo tertib memang lebih banyak diperuntukan bagi balita dan anak-anak sekolah.
"Ayo cepat bobo Dek, bobonya di kamar. Nanti digigit nyamuk kalau di luar."
"Boboooo, besok kesiangan!"
"Ayooo... semua bobo, Ibu sama Bapak mau ada kegiatan," (Nah, kalau ngomongnya yang begini ini, gak herankan kalau anak-anak Indonesia memilih turun ke jalan buat tawuran.) 
Meski tak sepopuler "Buanglah Sampah pada tempatnya", bukan berarti anjuran ini tidak penting. Baiknya juga untuk tetap saling mengingatkan pada pasangan untuk bobo tertib agar tidak terjadi hal-hal yang bisa membuat runyam keamanan negara. Gara-gara warganya sibuk menggalau disebabkan bobo sembarangan.
Tidurlah pada tempatnya
Senewen kann kalau lihat foto yang tidur begini
Sumber foto dari didieu wae!

Pengalaman berikut ini adalah salah satu kisah pahit yang menimpa teman kami karena bobo sembarangan.
Terdesak akan kebutuhan untuk menyelesaikan tugas kuliah, teman kami ini sudah terbiasa menggelandang untuk tidur disatu kost ke kost-an yang lain demi wifi. Maklum kamar kost yang dia tinggali sekarang sangat minimalis,berikut juga fasilitasnya. Teman kami bernama Sugalli, seorang  mahasiswa teknik tingkat akhir. Selain sebagai mahasiswa dia juga berprofesi sebagai laki-laki panggilan. Jadi tidak heran dia begitu terkenal di lingkungan kami.
FYI, laki-laki panggilan adalah laki-laki yang sering kami panggil untuk dimintai tolong  jika ada gadget, PC, Netbook, DVD Player, televisi, alat-alat rumah tangga bermasalah. Nah, kalau rumah tangga yang bermasalah saya tidak yakin Sugalli bisa mengatasinya.

Sabtu, 19 September 2015

Hukum Gravitasi dan teori Balas Dendam

Hidup adalah gravitasi. Itu menurut saya yang menggilai sains. Sejak berkenalan dengan gravitasi saya selalu mengkaitkan segala hal dengan gravitasi. Gaya Gravitasi. Alasan perempuan pakai Bra, selain untuk estetika sebetulnya tujuan utamanya untuk mengakali efek samping gaya gravitasi. Iya gak?
*gak iya.
*Ah, biarin saja ...

Jumat, 21 Agustus 2015

Awas Nanti digampar Emergency Door!! [Review Film Mission Impossible : Rogue Nation]

Menyaksikan Kang Ethan Hunt beraksi lagi untuk kesekian kalinya di malam minggu kemarin. Saking pesimisnya gak akan kebagian tiket saya pergi ke blitz sampai lupa sisiran. 

Di Mission Impossible: Rogue Nation ketampanan everlasting Tom Cruise, sempat pula mengalihkan saya dari jalan cerita film. Sampai si akang nanya ceritanya gimana? saya bilang lupa. Soalnya Tom Cruise mengalihkan dunia ku. Dan dunia malam minggu kami langsung buram.

Eits, gak usah dibahas la yaaa.. soal itu mah. Gak penting!

Secara garis besar cerita  Agen IMF: Rouge Nation itu standar (bagi seorang yang kesulitan menyimak jalan cerita akibat melihat ketampanan Kang Ethan Hunt). Sekarang untuk film-film Mata-mata trend-nya musuh dalam selimut. Lah, pan semua negara sudah bersatu padu memerangi ketidakadilan. World Piece.
Jadi  Akang Ethan dkk harus menghadapi Agen Syndicate yang ternyata diprogram sama dengan IMF. Awalnya tujuan pendirian Syndicate buat latihan para Agen. Eh, ternyata malah dipakai tujuan lain sama Solomon Lane (sebagai tokoh sentral Syndicate) dan Chief Athlee. Dua Orang ini adalah MI6. Betul, satu Institusi sama James Bond.

Kamis, 20 Agustus 2015

Definisi Selingkuh


Pertanyaan itu sedikit membuat saya terhenyak. Apa coba maksud Dinda menanyakan definisi selingkuh sama saya? Padahal kalau soal definisi-definisi begini akan mudah ditemukan jawabannya melalui perantara Mang Google. 

se·ling·kuh a 1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng;
ber·se·ling·kuh v bertindak atau berbuat selingkuh;
per·se·ling·kuh·an v hal berselingkuh;
me·nye·ling·kuh·kan v mengambil dng maksud tidak baik, msl untuk kepentingan diri sendiri; menggelapkan: ia - uang kas perusahaan untuk berjudi;
per·se·ling·kuh·an n perihal berselingkuh: tidak semua diskotik menjadi tempat -
Tuh saya Copas dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Namun saya masih menerka-nerka maksud Dinda sampai menembus kemacetan kota Bandung demi bertanya definisi selingkuh.
“Sebetulnya Gue lagi kesel Bi,” kata Dinda.
“Bukan kesel sama saya kan??” kata saya dengan deg-deg-an. Eh, kenapa pula harus deg-degan yaaa.... Jadi salah tingkah dengan pertanyaan Dinda. Duh, koq, saya jadi lebay.
“Bukan. Saya dituduh selingkuh.”
Owwalaaaah....mendengar jawabannya saya langsung lega. Saya amaan. Ah, naon sih??
“Sama siapa?”
“Sama teman-teman kantor.”
Selingkuh sama teman-teman kantor? Koq banyak amat. Mau mecahkan rekor ya…
“Bukaaaaaan!” Dinda setengah teriak. “Maksud saya. Saya dituduh selingkuh dengan Pak S, sama teman-teman kantor.” Dia menjelaskan lebih rinci.
“Oooh…” Saya langsung menyimak.

Minggu, 09 Agustus 2015

Saya dan Pisang bukan Salah Paham

Buah kesayangan ini memang tidak saya publikasikan secara terang-benderangan soalnya sering kali membuat orang-orang salah paham. Banyak yang salah menafsirkan. Tapi sejak saya nulis ini orang-orang jadi hapal saya suka makan pisang. Dan tetap masih jadi olok-olokan untungnya bukan cibiran. Meski begitu tidak mengurangi saya untuk meninggalkan pisang. Saya suka pisang, apalagi kalau galau sedang melanda, baik galau yang disebabkan oleh cuaca, deadline pekerjaan maupun kakang prabu yang tak kunjung datang. Kalau galau begini coklat dan pisang sudah tentu jadi sasaran.

minion dan pisang
foto ilustrasinya 
Kadang-kadang saya suka merasa pengin makan Minion juga

Gak ngerti juga mengapa para bidadari, yang makan pisang sering mengundang perhatian dan jadi materi buat komentari.  Dari mulai cara memegang pisang sampai melahapnya. Makanya saya suka sembunyi-sembunyi kalau makan pisang. Malah dulu sempat baca ada satu negara yang melarang kaum perempuan makan pisang sembarangan (di tempat umum) karena dianggap vulgar. Semoga saja berita yang saya sempat baca itu cuman HOAX belaka. Layaknya berita-berita sekarang yang menghiasi halaman lini masa media sosial masing-masing.

Selasa, 28 Juli 2015

There Aint No Such Thing as a Free Lunch

Menyebutnya sebagai Bandar ayam memang bukan tanpa alasan. Beliau adalah salah seorang pengendali pasokan ayam di kota Bandung. Bisa jadi dia juga mampu mengendalikan harga ayam itu sendiri. Eh, kok, malah jadi su’udzon gini.
Kata dia, menjadi bandar ayam itu karena terpaksa. Terpaksa karena di kampung orang tua dan adik-adiknya butuh biaya. Terpaksa, karena di kampung mah sedikit lahan pekerjaan. Tidak ada pabrik, tidak ada gedung perkantoran. Tidak ada apa-apa kecuali ada lahan dan ayam. Terus, terpaksa karena dia gak punya keahlian yang mengagumkan. Padahal dalam ijazahnya tertulis dia lulusan SMK. SMK teknik mesin, jatuhnya malah ngurus ayam. Saya tanya pada dia soal keahlian mengagumkan itu.
“Itu lho yang seperti orang-orang sekarang. Ahli mengendalikan komputer. Bawa-bawa gadget kemana-mana. Pakai kemeja, dasi dan sepatu mengkilat.” Jawab dia setengah grogi.
“Tapi mending jadi bandar ayam lah, daripada menjadi bandar narkoba,” puji saya.
Eh, dia malah tersipu-sipu dengan pujian saya.
“Jadi bandar ayam lebih menguntungkan daripada jadi bandar narkoba. Secara Orang Indonesia itu sudah kecanduan ayam sangat. Tiada hari tanpa ayam. Bahkan pengguna narkoba pun pasti suka makan ayam. Tapi pemakan ayam belum tentu mau pakai narkoba.” Kata saya lagi.
“Ah, si teteh mah, bisa wae...” kata dia. Mukanya makin merah. Kalau sudah begini semakin bersemangat saya menggodanya. hahahaha...
Padahal tanpa dia sadari, menurut saya apa yang dia lakukan sangat mengagumkan. Di usia muda, dia sudah mandiri ( I know bukan hal yang amazing, di sinikan sudah banyak ya..). Omset penjualan ayam yang pat-pat gulipat, berlipat-lipat. Dengar-dengar dia juga punya usaha properti. Buka jasa menyediakan kakus di rest area,juga kost-an. Dia bilang juga terpaksa punya kost-an, soalnya kasihan kalau ada yang ke Bandung suka riweuh nyari tempat tinggal. Bahkan soal lahan dan ayam, saya kategorikan sebagai bagian dari Humblebrag alias merendah meningkatkan mutu. Lha, dia saja gadget-nya pake merk apple. Sudah gitu dia bilang buat main-main saja. kebayangkan kalau yang buat urusan serius dia pake gadget merk apa??
Nangka???! *bukaaan, kumaha kamu we-laaahhhh...
Intinya jangan meragukan kemampuan orang-orang yang tinggal kampung. Atau yang mengaku-ngaku diri sebagai pribadi kampungan. Kita bisa tercengang dibuatnya.
Parabola di Panjalu
Antena Parabola di Panjalu yang dijadikan jemuran (Foto Dokumentasi IG: abahgembol)


Banyak hal mengagumkan dari dia, diantaranya sang Bandar sering kali mengirimkan saya pisang buat pelengkap makan siang. Saya tahu, buah-buahan kesukaan ini tidak saya publish sembarangan soalnya suka jadi banyak misunderstanding gitu. Saya yakin, sang Bandar tahu hal ini berkat teman saya. Tapi gak apa-apa saya senang sekali dapat kiriman pisang. Apalagi dari kampung yang sengaja dibiakan tanpa campur tangan obat-obatan. 

Kemarin Sabtu, beberapa hari setelah hari raya, Sang Bandar kembali mulai beroperasi. Mengecek para nasabahnya sekalian silaturahmi. Kami bertemu di rumah teman saya yang membocorkan buah-buahan kesukaan saya itu (dengan begini si teman saya pun jadi kecipratan  oleh-oleh juga). 
Setelah berbasa-basi dan saya menikmati muka merah sang Bandar, lalu berhubung pada musim lebaran selalu ditanya-tanya oleh pertanyaan menakutan (you know what i mean. exactly!).
Sang Bandar pun tidak urung kena sydrome ini. Basa-basi berlanjut pada seputar obrolan kriteria pencarian pasangan. Jadi teringat kiriman pisang itu ternyata bukan hal gratis. Bukan tidak ada maksudnya. There aint no such thing as free lunch. Pasti ada sesuatu nyah.
there aint no such thing as free lunch


Tiba-tiba sang Bandar berkata begini dengan muka lemas, "... tapi teteh mah sepertinya gak mau diajak hidup susah. Hidup prihatin."

Saya tertegun. Lalu saya balik bertanya pada dia, "memang ada ya kang, perempuan yang mau diajak hidup susah. Hidup prihatin?"

Giliran dia yang sekarang kebingungan dengan pertanyaan balasan saya. Lah, memang betul juga kan......?
Kira-kira yang baca di sini terutama kaum perempuan, ada gak sih yang mau hidup prihatin atau hidup susah? takutnya saya saja pikirannya rada begini.
lunch


Sabtu, 25 Juli 2015

Infotemen: Hanya Aku dan Tuhan yang Tahu

Ada kata info dan taiment (dari entertainment) dalam infotaiment. Kalau secara dangkal diterjemahkan sebagai kabar buat penghiburan. Buat suka-suka saja, agar orang yang sedang lara mendengarnya jadi terhibur.


Beberapa acara infotaiment buat rujukan untuk melihat keinginan pasar ;)

Saya sendiri sebetulnya kurang suka dengan program tayangan ini. Berhubung tuntutan pekerjaan jadinya, saya jadi sering melihat acara gosip. Melihat saja tidak menyimak, karena sesungguhnya saya tidak tahu mereka siapa dan apa peran mereka dalam dunia seni (biasanya yang diberitakan orang-orang yang berkiprah di dunia seni). Sumpah, Suwer!! Ini bukan alasan yang mengada-ada atau rekayasa.

Ada kalanya pengetahuan yang diperoleh dari acara infotaiment semacan mata uang dalam mencari peluang. Misalnya begini, ada klien yang meminta pernak-pernik hantarannya berwarna hijau. Saya ajukan berbagai warna hijau, dia tolak semua. Saya hampir putus asa, masa saya harus mengajukan warna hijau rumput tetangga. Itu bisa bikin nangis-nangis lagi. Masalah warna hijau ini akhirnya selesai ketika Sang klien mengajukan warna hijau seperti pada nikahan Anang-Ashanty.
Lega deh, setelah itu langsung meluncur mencari warna hijau rumput tetangga. Eh, hijau Anang-Ashanty. Tentunya paling mudah dicari di tempat-tempat acara gosip ini.
Mirip Mommy Khong Guan ...


Dari Lolita saya belajar arti baru kata Infotaiment. Teman saya yang cantik ini, paling anti menonton acara infotaiment. Alasan dia sangat sentimen dan pribadi.
Ini terkait dengan kejadian beberapa tahun lalu, ketika Ayah Lolita yang seorang pejabat di sebuah Kementrian diisukan mempunyai wanita simpanan. Sebut Saja Miss M yang berprofesi sebagai artis (atau foto model saya kurang paham profesinya. Saya curiga Miss M, foto model buat katalog baju-baju online yang menampilkan dari leher ke bawah). Beberapa bulan kemudian Miss M  mengeluarkan single dengan video klip yang sangat mewah. Luxury. Anehnya kok saya malah menangkapnya murahan. Memang otak saya musti upgrade mengenai dunia selebritas begini. Konon kabarnya semua biaya produksi pembuatan single hingga video klipnya atas pendanaan seorang pejabat. Gegar dunia infotaiment. Mereka menelusuri siapa pejabat yang ada dibelakang kemunculan artis baru Miss M. Apa sih yang tidak bisa dilacak hari gini?? semua meninggalkan jejak.

Sialnya lagi beberapa kerabat dan tetangga Lolita di rumah mulai  disisir oleh para reporter gosip. Mereka bergiliran diwawancarai, sampai keluarga Lolita harus ngungsi. Tinggalah Bi Eha yang ditugasi melihat rumah tiap tiga hari sekali. Menurut saya yang otaknya kurang upgrade, gejala ini mulai tidak wajar.

"Kamu juga?" tuding Lolita pada saya, saat berita Miss M nongol di sebuah acara gosip lalu penjaga kios yang berada beberapa meter dari rumah Lolita ada diwawancara juga. Mungkin untuk mencocokan situasi.

"Iihhh engga atuh Lol,"kata saya. Meskipun dalam benak sudah terbersit jika ada wartawan gosip yang mau mewawancarai, saya minta dibuatkan schedule dulu. Karena saya berencana memakai baju cocktail milik teman saya, saya pakai tas brand teman saya pula. Sepatu, aksesoris. Pokoknya semuanya. Jadi pas wawancara akan saya sebutkan kalau baju, tas, sepatu cantik ini. Kalau perlu dokter kulit yang saya biasa konsultasi akan saya sebutkan juga. Lumayan itung-itung sebagai ajang promosi untuk memajukan produk lokal yang gak kalah keren dengan brand luar.

Tapi demi Lolita semua itu tidak akan saya lakukan. Saya tahu dia terluka cukup parah. Lukanya tidak bisa dilihat karena tidak berdarah-darah. Karena sejak saat itu, Lolita dan ibunya serta adiknya pindah rumah.

Sedangkan sang Artis masih tetap wara-wiri di televisi, sesekali  saya melihat dia menjadi nara sumber di acara talk show. Perkara soal rumor di acara infotaimen maupun infotemen telah ditutup oleh Miss M dengan sukses yang mengatakan kepada publik (maksudnya yang nonton gosip, termasuk saya) dengan mengutip kalimat paten:"hubungan dengan Pak X hanya Tuhan dan  saya saja yang tahu." Kata dia.
Paten kan? Lha, memang ada gitu yang berani mempertanyakan itu pada Tuhan ......

Senin, 20 Juli 2015

Sekedar Nama Panggilan

Pernah sekali nama itu saya hapus dari daftar kontak. Sudah saya bakar juga kartu nama yang beliau berikan pada saat berkenalan. Sampai tidak ada  jejak  sama sekali. Itu opearsi standar toh, semacam ritual buang sial.  Maka ketika beliau mengontak saya kembali, saya tidak langsung menyahutnya dengan alasan sebagai berikut ini :
1.. Saya pikir itu tawaran asuransi. Penawaran asuransi sedang marak betul. Mungkin salah satu sebab dari peralihan semua harus pakai BPJS. Mungkin juga karena dicanangkan tahun asuransi nasional. Entah, wallahu alam bisawab.
2. Penawaran kredit tanpa Agunan (mungkin jika kredit tanpa cicilan saya masih bisa pertimbangkan)
3.Telpon penipuan. Diaku sebagai pemenang dari undian Bank, pengisian Pulsa dan sebagainya.
Ketika tahu  si beliau yang menelpon, rasanya kaget luar biasa. Lebih kesal dari tiga sebab diatas kalau tahu sudah saya reject duluan. Tapi Setelah serangan bujuk rayu dan tipu daya, alih-alih saya memblokir nomor tadi, malah kepikiran memberikan credit tittle yang signifikan.
A common name. Nama beliau itu kalau bisa dibilang pasaran sangat pasaran. Saya yakin  Orang Sunda yang posisinya di ujung dunia ada yang pakai nama ini. Kalau saya cantumkan namanya, ah, di daftar kontak bisa jadi diurutan kesekian. Bahkan anak tuan tanah di kampung Bapak yang sedang gencar-gencarnya PDKT sama bapak agar mau menerimanya sebagai menantu, pakai nama ini pula.  
Alasan lain tidak mencantumkan namanya, karena namanya itu mirip dengan teman semasa masih pakai putih-abu. Anaknya bengal luar biasa. Saya pribadi kurang suka sama dia. Dia ngakunya dulu bersekolah di pesantren. Herannya begitu pindah ke Bandung, bengalnya tidak bisa dikalahkan.
Pernah saya menegur ketika dia merokok di dalam angkot. Mungkin saat itu dia pikir saya tidak berani melakukannya tapi ketika saya menegurnya dengan pelan akhirnya dia mau mematikan rokoknya. Lalu saya katakan terima kasih karena telah mau mematikan rokok. Dia terdiam. Tiba-tiba saja kejadian itu serasa menjadi aib bagi kami berdua. Dengan kesepakatan yang tanpa harus diskusikan, saya tidak pernah menyinggung hal ini di sekolah. Saya tahu, kharisma Premannya akan luntur jika ketahuan dia bisa nurut sama perempuan. Makanya saya anggap hal itu bukan kejadian luar biasa.
Pada masa putih-abu itu saya dan si bengal memang sering adu mulut. Kami berkonflik hampir tiap hari. Anehnya, setelah sekian tahun berpisah. Terpisahkan ribuan mil pula, lalu kami dipertemukan kembali gara-gara buah karya Mark Zuckenberg.  Kami menjadi lebih akrab. Saya sering menyindirnya lalu dia membalas, “Bi pikir saya pasti jadi preman ya…?”
Saya katakan saja, “Iya! Kamu punya potensi ke arah sana. Potensi yang membuat orang tua kamu jadi gila.”
Dia tertawa. Kelakuannya memang membuat orang tua jadi merasa bersalah karena telah mengirimnya ke Bandung untuk sekolah. Tapi, dunia berputar, ada kalanya prediksi menjadi semacam warning. Sekarang dia sudah tidak merokok apalagi narkoba dan miras lagi. .
Lalu saya bilang, “Nah, mungkin karena itu kita bisa akur. Otak kamu tidak dalam pengaruh kekuatan jahat.”
Dia tertawa lagi. Setelah itu kekuatan internet menjadikan kami lebih sering tertawa untuk mengenang masa bengal dia.
            Setelah ditimang-timang akhirnya saya memberikan credit title Pak Juragan. Bukan buat si Bengal atuh, buat beliau yang mengontak saya kembali. Alasannya saya pakai nama itu, saya teringat keinginan beliau untuk mempunyai kerajaan bisnis sendiri. Mengingat beban yang disandang dipundaknya pula yang membuat dia berusaha keras mewujudkan cita-cita yang mulia.
credit tittle si beliau alias Pak Juragan

            Tapi eits, eits… cita-cita itu bukan termasuk memberikan santunan yang berharap balasan untuk para pacar-pacar terlantar dan janda-janda teraniaya yah!!! Justru dengan credit title “Juragan” saya berharap dia bersikap sebagai Juragan yang sebenar-benarnya.  Seorang Gentleman. Jika semua laki—laki adalah juragan tidak akan ada perempuan yang harus menjadi pacar-pacar  terlantar atau  janda teraniaya. Come Man, just grow Up! saya yakin dan seyakin-yakinnya, jika ada Juragan yang berlaku menyimpang, kerajaan bisnisnya akan luluh-lantak seketika. So, kalau ada yang sering gagal mungkin harus ingat kelakuan.
            Biarlah credit title ini menjadi semacam do’a dari saya agar semua keinginan dan harapan Pak Juragan terwujud. Saya tidak tahu do’a saya untuk beliau itu valid atau tidak di mata Tuhan. Karena saya bukan apa-apa bagi beliau. Meski begitu saya tidak pernah mempersoalkannya. Karena Tuhan pula yang telah memperkenankan saya bertemu dengan Pak Juragan. Tak perlu protes pada Tuhan jika akibat pertemuan itu malah menyakitkan. Tidak ada satu kejadian yang tanpa tujuan. Pertemuan saya dengan Pak Juragan tentu ada maksudnya. Meski itu sebuah pembelajaran yang pahit. Agar saya belajar untuk waspada, atau semacam penggugur dosa atas apa yang telah saya lakukan.
Dan saya sedikit teringat kata-kata Pak Juragan sebelumnya, “jika ada jodoh  bla bla bla bla….” begitu kata beliau. Ternyata setelah saya deleted, hapus sampai ke akarnya eh, nongol lagi.  Iya, itu juga pasti karena sinyalnya sedang kuat, Hahahahaha…  uppps bukan lah!  Itu semata-mata kehendak Tuhan.

Kali ini tidak akan saya hapus. Tenang Pak Juragan, anda tentu tahu saya tidak se-galak itu. Saya perempuan baik-baik dan perempuan yang  baik untuk laki-laki yang baik. Sudah hukum alam, Bapak Mario Teguh juga berkata demikian.

Sabtu, 11 Juli 2015

Mamah dan Puasa hari ke-22

Pagi. Pulang tadarusan, Mamah datang dengan wajah murka. Beliau ngomel-ngomel dengan sewot. Padahal sekarang bulan puasa di mana setan-setan diikat gak bisa berkeliaran. Lagian mamah pulang tadarusan pula. Kenapa setannya malah berakumulasi gitu yaaa?
Ternyata oh, ternyata sandal kesayangan mamah ada yang menukar. Sandal kesayangan mamah adalah selop dari kulit. Warnanya coklat muda dengan aplikasi bunga-bunga warna krem. Saya membelinya dua tahun lalu di sebuah pameran di Graha Manggala Siliwangi dengan harga bersahabat sebagai sesama peserta pameran. Halaaaaaaah, koq jadi buka-bukaan riwayat sandal sih. Anyway, sejak saat itu sandal hasil buruan dari pameran menjadi kesayangan dia. Selain modelnya yang agak vintage, sandal itu memberikan kenyamanan luar biasa buat kaki mamah.
Sialnya di Bulan puasa 1436 H hari ke 22, sandal sebelah kiri raib dan tertukar dengan sandal jepit warna fuschia buatan China (ada tulisannya jelas sekali. Sedangkan sendal mamah asli buatan Indonesia bagian wilayah Cibaduyut raya)
"Tuh, orang gak punya perasaan kali yah?!! jelas-jelas sandal mamah disimpen diatas. Terus ini kan ada haknya??" tunjuk mamah sama sandal warna fuschia dengan jengah. Sandal kesayangan mamah flat.
Jadi kebayangkan Mamah pulang dari mesjid berjalan tertatih pakai sandal yang tinggi sebelah.
"Tadi Pak Ustadz juga sempet nawarin buat diumumkan pake speaker mesjid. Tapi mamah tolak..."
Wadddduh, sampai sebegitunya. Saya membayangkan kehebohan di pintu mesjid subuh ini. Para ibu-ibu yang panik mencari sandal dan Pak Ustadz melakukan operasional standard untuk menenangkan.

"Ya, sudah Mah, kalau besok ada. Berarti ditukerin aja lagi. Mungkin masih ada rezeki." Maklum bulan puasa, edisi religi, saya serasa jadi murid Mamah Dedeh peringkat pertama.
"Besok, kalau mamah lihat sebelah lagi akan mamah ambil. Biarin dia pulang gak pake sandal." Ancam Mamah. Alisnya diangkat, biar kayak penjahat Dholim yang akan menguasai dunia.

Kadang memang sedikit repot dengan peraturan penyimpanan sendal kalau ke mesjid. Hampir gak ada aturan. Masalah klasik. Sendal-sendal akan parkir berserakan. Sering kali ada pula oknum yang sengaja menukar-nukarkan atau memisahkan pasangan sandal, biar terjadi kehebohan. Pastinya yang paling parah bukan menukar-nukar pasangan saja tapi membawa pulang sandal. Masa nanti menyimpan sandal harus digembok seperti ini biar gak hilang?
Sampai tragedi sandal jepit ini sering dijadikan pepatah, Jodoh dan rejeki tidak akan tertukar seperti sandal jepit. Bahkan putri yang tertukar bisa pulang kembali, kalau sandal jepit kemungkinan kembalinya minim sekali.
Apa mungkin diadakan lomba desain buat penyimpanan sandal di mesjid?


Malamnya kami pergi tarawih, malam itu mamah pake sandal warna ungu yang modelnya seperti kue balok. Semi Wedges, cuma datar gitu. Dia simpan lagi dengan tertib. Posisinya sedikit berubah dari biasanya. Lalu dia mengucapkan sedikit jampi-jampi biar gak ada yang jahil lagi.

Seperti adat kebiasaan walaupun bukan berasal dari tanah Arab tapi patut tetap dilestarikan :D,  jika sepuluh malam terakhir para peserta tarawih akan dimanjakan dengan snack yang akan dibagikan pada saat pulang. Memberikan kesenangan tersendiri pada pemberi snack terlebih lagi kami para penerimanya.

Mamah sudah ada di depan, terlihat celingukan. Setelah saya berhasil memakai sandal jepit hitam yang sudah bertahan empat kali lebaran. Saya menghampiri mamah. Percayalah mencari sandal setelah taraweh juga bukan pekerjaan yang mudah.

Rupanya untuk yang kedua kali sandal mamah hilang lagi. Kali ini dua-duanya. Kondisi tangan kami penuh dengan makanan, mukena dan sajadah. Saya mendengar kabar itu sedikit geli. Sambil membantu mencari saya menahan tawa. Puasa hari ke 22 Mamah diuji dengan sandal.

Entah berapa lama kami di sana dan sandal-sandal mulai menyusut dipakai oleh pemiliknya. Kami membalikkan sandal yang tertelungkup dengan susah payah. Sendal mamah yang model kue balok ini juga suka begitu, paling sering tengkurap. Kalau disuruh telentang susahnya bukan main.

Pak Suami alias bapak saya lewat dari pintu laki-laki, dia melihat kami. Eh, tapi langsung berlalu saja. Hadddeuuuh....
Akhirnya mamah pulang nyeker. Saya meminta maaf sama mamah karena tidak bisa menahan tawa.Tak lupa saya istigfhar, takut kualat mentertawakan orang tua. Takut besoknya sendal saya mengalami nasib yang sama.


FYI, subuh hari ke 24, pasangan sandal kesayangan mamah ditemukan.

Rabu, 08 Juli 2015

Berita Sentimen

Judul beritanya membuat saya penasaran, makanya begitu nongol lagi saya langsung sambit mengklik-nya. Ini berita sentimen.Tulisannya gak sampai seribu kata. Pasti cepet dong dibacanya. Nah, ini yang jadi masalahnya. Ketika saya membacanya dan berkali-kali saya baca. OK, dengan tulisan yang kurang dari 1000 kata harusnya akan lebih mudah dibaca dan dicerna. Saya malah merenung, mencoba menyimak tulisan ini. Dodol sekali.


Saya memang suka terbawa "sakaba-kaba" (kurang lebih artinya mirip dengan pergaulan bebas). Termasuk soal bacaan. Jenis bacaan ini memang lagi happening di newsfeed dan timelines saya, makanya bikin saya penasaran. Plus ditambahi dengan komentar yang menakutkan dari pelaku sharer (Heu heu heu.... kalau tukang Sharing berita di medsos namanya Sharer bukan? Sharer Sungkar.)
Setelah berulang kali saya baca saya tetap saja gak ngerti ini berita. Arti menari saya mengerti lah, pasti semacam party-party. Senang-senang.  Judulnya saya ngerti. Nah, isi beritanya, bikin saya nangis bombay karena gak paham. 
Terus kalau maksud sentimen di sini apa yah? Apa artinya sama seperti si Akang yang suka sentimen ke saya kalau nemu tukang parkir cakep?
Apa seperti sentimen para mantan pada the new gebetan?

Memang segala sesuatu harus diserahkan pada ahlinya.
Da Aku mah Apah atuuuh...., hanya Rakyat Jelita yang mencoba membaca berita.





Kamis, 18 Juni 2015

Pertanyaan Menakutkan Bagi Mamah

Beberapa waktu lalu saya dan Mamah tak sengaja menonton penggalan video klip milik Nicki Minaj yang berjudul 'Starship'. Lagunya sih sudah sering kami dengar. Di pagi hari biasanya banyak radio memutar lagu tersebut.  Iramanya riang, bisa membangkitkan semangat. Semacam Mood Booster. Lebih baik daripada mendengarkan lagu penggalauan. Semisal lagu melumpuhkan ingatan atau jenis lagu teraniya. Jenis lagu teraniya itu seperti lagu-lagu yang dipopulerkan oleh alm. Nike Ardilla.

Sayangnya jadi sedikit ada gagal paham ketika menyaksikan video tadi. Berhubung judulnya 'Starships', jadi saya pikir ini video klip berlatar luar angkasa. Mirip-mirip film Startrex atau Starwars gitu lah. Ada Yoda, Obi Wankanobi. Ternyata bukaaaaaaaaaan... ini malah seperti ikan duyung dari planet lain yang terdampar di belahan samudera antah berantah. Betapa dangkalnya pikiran saya.

Nah, begini salah satu penggalannnya. Sensor dikit yaaa..

Kalau ini pakai kerudung, ceritanya edisi religi
Starships were meant to Fly...

Tiba-tiba saja terbersit dari pikiran saya buat bertanya pada Mamah.
"Mah, kalau misalnya saya menghilang. Terus tiba-tiba Mamah melihat saya di TV seperti Nicki Minaj. Mamah mau gimana?"
Daripada menjawab Mamah langsung pergi setelah sebelumnya dia menempelkan punggung tangannya ke jidat.

Oh, tentu saja saya tahu mengapa Mamah menjawabnya seperti demikian. Lah, anak macam apa saya. Mengajak mamahnya nonton video klip Nicki Minaj.

Ketika tahun Hijriah memasuki bulan Syaban. Berbondong-bondong lah Undangan datang ke rumah yang diantar kurir dari berbagai kalangan. 

Di bulan Syaban, hampir tiap minggu saya menunaikan tugas negara mengantar Mamah ke undangan. Entah itu undangan dari kolega, teman pengajian, tetangga, kerabat, handai-taulan dan semua yang ada dalam struktur sistem silaturahmi. 

Minggu itu, hari minggu terakhir bulan Syaban, minggu depan sudah memasuki puasa. Jadi pada saat itu kami menghadiri tiga undangan sekaligus (orang tua bilang, takut kehabisan waktu jadi dipercepat sajaaa...). Tiga pemirsah! semacam Road Show saja. *nyusut keringat di jidat. 
Padatnya jadwal undangan yang rata-rata dihelat di gedung dengan batasan waktu membuat kami harus bergegas dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak bisa kuliner dengan sistem all you can eat.

Undangan yang pertama dari Pak Ustadz. Salah satu guru ngaji Mamah. 
"kalau Mamah gak datang gak enak. Soalnya dulu pas nikahan anak Pak Ustadz C, Mamah datang. Kalau yang ini enggak, nanti dipikirnya Mamah pilih kasih."

Wah, gak mungkin juga kali.... secara beliau Ustadz. Ustadz gitu lho, gak mungkin lah berpikir seperti itu. Pasti dong prasangka terkontrol dengan baik.
"Lah, mungkin Pak Ustadz-nya enggak. Kalau Bu Ustadz nya kan belum tentu." timpal Mamah lagi.
Bisa jadi. Saya ngalah saja. Lagian takut kualat kalau melawan orang tua.

Dan ini Suami mamah alias bapak saya, dengan bebas merdekanya mendelegasikan tugas mengantar Mamah ke undangan ke saya. Alasannya cukup sederhana tapi berdampak besar buat negara. Yaitu menjaga kulkas berserta isinya. Itu tugas mulia, yang tidak bisa diwakili pada siapa pun. Amanah tertinggi.

Menghadiri undangan Pak Ustadz cukup membuat grogi. Dari awal sudah terdengar sholawat, puji-pujian. Undangan laki-laki dan perempuan dipisah. Bagi yang pertama kali menghadiri undangan dengan sistem seperti ini mungkin bakalan gak nyaman. Bagi pasangan yang selalu harus nempel kayak perangko pasti gak akan cocok. Berhubung saya mendampingi mamah, sistem ini gak ada masalah. Yang sedikit jadi masalah, itu ada sejenis bau-bauan yang menusuk tajam. Kata si neng penjaga souvenir itu parfum dari Mekkah. Minyak kasturi. Wangi surga, tapi kok, saya malah merasa tersiksa dengan baunya. Apa hidung saya gak cocok gitu? Padahal ini baunya surga. Nanti saya malah di-send ke neraka. Iiiiiih, saya gak mau. *pengen nangis kejer-kejer.

Undangan kedua. Ini standar hajatan di negeri ini. Selain ada mempelai, kedua orang tua. Catering dan tentu saja DANGDUT. Dan entah kenapa meninggalkan undangan kedua otak saya dihadiahi lagu Janda Bodong. Itu pertama kali mendengar lagu Janda Bodong, dan tidak bisa melupakannya. Jadi ingin teriak.

Undangan ketiga. Kami mulai kelelahan, makanan di undangan pertama dan kedua mulai berkecamuk. Bayangkan yang satu dari surga yang satu masih dalam proses ke surga. Betapa ributnya mereka di perut saya. Jangankan disatukan Lah, di dunia maya saja mereka bertempur. Gontok-gontokan. Kasihan benar perut saya saat itu.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua. setengah jam lagi undangan ini pun akan berakhir. Mamah cepat-cepat menuju ke pelaminan, disana masih ada orang tua mempelai perempuan yang merupakan teman pengajian mamah. Sedangkan saya menunggu dibawah sambil mencari-cari minuman. Saya bisa melihat Mamah menunjuk ke saya. Mungkin dia bilang ke si empunya hajat, kalau dia kesini diantar sama anaknya yang geulis kawanti-wanti siga Bidadari nu titutug ka leuwi :D  (Seperti Bidadari yang terperosok ke danau)

Saya menundukan kepala dan melemparkan senyum, "Oh God, this highheel is going to kill me.
Nah, itu sebetulnya yang terjadi. Mengapa saya mentok di kedai es krim daripada mengantarkan Mamah ke Pelaminan buat setor muka sama yang punya hajat.

"Bi....!"
"Neng...?"

Kami berteriak histeris. Ini bukan saya dengan Mamah. Mamah posisinya masih di pelaminan mengobrol dengan Mamah mempelai perempuan ketika kami berteriak . Saya berteriak dengan Neng, teman kecil dulu. 
Tidak menyangka kami bertemu di sini. Kami saling cipika-cipiki dan menanyakan kabar. Sudah hampir empat tahun kami tidak bertemu dan Neng semakin berkilau saja. 

Mamah turun dari pelaminan langsung menghampiri kami. Mamah mengenali Neng, bertanya kabar. Saya tahu mamah punya banyak pertanyaan buat Neng, tapi dia simpan saja. 
Neng mengajak kami bergabung dengan teman-temannya. Saya sadar diri, tidak mungkin saya bergabung dan meninggalkan mamah sendirian atau memilih bergabung dengan Neng dan teman-temannya mengajak Mamah. 


Mamah lekat menatap Neng dan teman-temannya. Ada rasa yang sulit dia jabarkan melihat Neng dan kawan-kawannya. Neng memang cantik, berkilau seiring dengan cerita-cerita yang menyertainya (tapi mending nanti deh cerita-cerita si Neng mah). Teman-temannya gak kalah ajaib. Kulit wajah yang kemerahan berkat pemutih, rambut berwarna, menjutai , bergantung-gantung di bahu. Neng saat itu memakai gaun satin warna krem dengan brukat dibagian dadanya. Satu temannya memakai long dress hitam, dengan belahan yang nyaris menuju ke-arah sana. Ke sana pokoknya mah. Terserah mau arah mana juga. Serta dua teman Neng yang memakai celana jeans ketat selutut, kaos ketat hitam dengan lengan bolong-bolong dihiasi blink-blink. Memperlihatkan lemaknya dan kulitnya yang tidak singkron antara kulit wajah dan badannya. Semuanya memakai selop kaca dengan hak sekitar 10 sampai 15 cm.

Oh ya, Mereka berdandan dengan make up tebal. Riasan mata yang nyaris menutup bola matanya. Tapi percaya deh, kalau di foto tampilan mereka akan terlihat bagus. Meskipun di tampilan nyata membuat bulu kuduk berdiri. Dan ada yang pakai Behel pula.

 Mereka semua merokok di pojok dekat stand ice cream, kecuali Neng. Dia asyik memainkan Handphone. Penampilan mereka mirip juri kontes dangdut yang diadakan di salah satu stasiun TV. Mamah tahu tidak boleh menatap mereka terus karena akan menimbulkan prasangka, jadi dia mencuri-curi pandang ke arah mereka.

Jadi kepikiran lagi nanya ke mamah. Kali ini saya sengaja memberikan pertanyaan pilihan ganda, biar gak pusing lagi jawabannya.

"Mah, jawab ya. Kalau Mamah melihat saya ada di kumpulan mereka, dengan memakai baju dan dandanan seperti mereka. Mamah akan? pilih jawabannya. A. Pingsan. B. Teriak"

Pertanyaan tadi berhasil mengalihkan perhatian Mamah. Mamah menatap saya.

"Saya akan meng-umrohkan Mamah tiap tahun. Puasa di Mekkah. Bagaimana Mah?" bujuk saya. Jadi inget cerita selebritis yang berhasil membahagiakan ortunya. Neng juga selebritis di RW kami. 

Beliau masih belum mau menjawab.
"Saya akan bangun rumah. Bangun mesjid juga," saya menaikan tawaran.

Mamah langsung berdiri.
"Mah, mau kemana?" tanya saya.

"Mamah mau manggil hansip." Begitu jawab Mamah. Lalu saya ngintil beliau, tak lupa melambaikan tangan pada Neng dan kawan-kawannya yang masih asyik mengasapi. Lah, Neng kamu kan bidadari masa rela diasapi seperti ikan atau daging?