Kamis, 18 Juni 2015

Pertanyaan Menakutkan Bagi Mamah

Beberapa waktu lalu saya dan Mamah tak sengaja menonton penggalan video klip milik Nicki Minaj yang berjudul 'Starship'. Lagunya sih sudah sering kami dengar. Di pagi hari biasanya banyak radio memutar lagu tersebut.  Iramanya riang, bisa membangkitkan semangat. Semacam Mood Booster. Lebih baik daripada mendengarkan lagu penggalauan. Semisal lagu melumpuhkan ingatan atau jenis lagu teraniya. Jenis lagu teraniya itu seperti lagu-lagu yang dipopulerkan oleh alm. Nike Ardilla.

Sayangnya jadi sedikit ada gagal paham ketika menyaksikan video tadi. Berhubung judulnya 'Starships', jadi saya pikir ini video klip berlatar luar angkasa. Mirip-mirip film Startrex atau Starwars gitu lah. Ada Yoda, Obi Wankanobi. Ternyata bukaaaaaaaaaan... ini malah seperti ikan duyung dari planet lain yang terdampar di belahan samudera antah berantah. Betapa dangkalnya pikiran saya.

Nah, begini salah satu penggalannnya. Sensor dikit yaaa..

Kalau ini pakai kerudung, ceritanya edisi religi
Starships were meant to Fly...

Tiba-tiba saja terbersit dari pikiran saya buat bertanya pada Mamah.
"Mah, kalau misalnya saya menghilang. Terus tiba-tiba Mamah melihat saya di TV seperti Nicki Minaj. Mamah mau gimana?"
Daripada menjawab Mamah langsung pergi setelah sebelumnya dia menempelkan punggung tangannya ke jidat.

Oh, tentu saja saya tahu mengapa Mamah menjawabnya seperti demikian. Lah, anak macam apa saya. Mengajak mamahnya nonton video klip Nicki Minaj.

Ketika tahun Hijriah memasuki bulan Syaban. Berbondong-bondong lah Undangan datang ke rumah yang diantar kurir dari berbagai kalangan. 

Di bulan Syaban, hampir tiap minggu saya menunaikan tugas negara mengantar Mamah ke undangan. Entah itu undangan dari kolega, teman pengajian, tetangga, kerabat, handai-taulan dan semua yang ada dalam struktur sistem silaturahmi. 

Minggu itu, hari minggu terakhir bulan Syaban, minggu depan sudah memasuki puasa. Jadi pada saat itu kami menghadiri tiga undangan sekaligus (orang tua bilang, takut kehabisan waktu jadi dipercepat sajaaa...). Tiga pemirsah! semacam Road Show saja. *nyusut keringat di jidat. 
Padatnya jadwal undangan yang rata-rata dihelat di gedung dengan batasan waktu membuat kami harus bergegas dari satu tempat ke tempat yang lain. Tak bisa kuliner dengan sistem all you can eat.

Undangan yang pertama dari Pak Ustadz. Salah satu guru ngaji Mamah. 
"kalau Mamah gak datang gak enak. Soalnya dulu pas nikahan anak Pak Ustadz C, Mamah datang. Kalau yang ini enggak, nanti dipikirnya Mamah pilih kasih."

Wah, gak mungkin juga kali.... secara beliau Ustadz. Ustadz gitu lho, gak mungkin lah berpikir seperti itu. Pasti dong prasangka terkontrol dengan baik.
"Lah, mungkin Pak Ustadz-nya enggak. Kalau Bu Ustadz nya kan belum tentu." timpal Mamah lagi.
Bisa jadi. Saya ngalah saja. Lagian takut kualat kalau melawan orang tua.

Dan ini Suami mamah alias bapak saya, dengan bebas merdekanya mendelegasikan tugas mengantar Mamah ke undangan ke saya. Alasannya cukup sederhana tapi berdampak besar buat negara. Yaitu menjaga kulkas berserta isinya. Itu tugas mulia, yang tidak bisa diwakili pada siapa pun. Amanah tertinggi.

Menghadiri undangan Pak Ustadz cukup membuat grogi. Dari awal sudah terdengar sholawat, puji-pujian. Undangan laki-laki dan perempuan dipisah. Bagi yang pertama kali menghadiri undangan dengan sistem seperti ini mungkin bakalan gak nyaman. Bagi pasangan yang selalu harus nempel kayak perangko pasti gak akan cocok. Berhubung saya mendampingi mamah, sistem ini gak ada masalah. Yang sedikit jadi masalah, itu ada sejenis bau-bauan yang menusuk tajam. Kata si neng penjaga souvenir itu parfum dari Mekkah. Minyak kasturi. Wangi surga, tapi kok, saya malah merasa tersiksa dengan baunya. Apa hidung saya gak cocok gitu? Padahal ini baunya surga. Nanti saya malah di-send ke neraka. Iiiiiih, saya gak mau. *pengen nangis kejer-kejer.

Undangan kedua. Ini standar hajatan di negeri ini. Selain ada mempelai, kedua orang tua. Catering dan tentu saja DANGDUT. Dan entah kenapa meninggalkan undangan kedua otak saya dihadiahi lagu Janda Bodong. Itu pertama kali mendengar lagu Janda Bodong, dan tidak bisa melupakannya. Jadi ingin teriak.

Undangan ketiga. Kami mulai kelelahan, makanan di undangan pertama dan kedua mulai berkecamuk. Bayangkan yang satu dari surga yang satu masih dalam proses ke surga. Betapa ributnya mereka di perut saya. Jangankan disatukan Lah, di dunia maya saja mereka bertempur. Gontok-gontokan. Kasihan benar perut saya saat itu.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua. setengah jam lagi undangan ini pun akan berakhir. Mamah cepat-cepat menuju ke pelaminan, disana masih ada orang tua mempelai perempuan yang merupakan teman pengajian mamah. Sedangkan saya menunggu dibawah sambil mencari-cari minuman. Saya bisa melihat Mamah menunjuk ke saya. Mungkin dia bilang ke si empunya hajat, kalau dia kesini diantar sama anaknya yang geulis kawanti-wanti siga Bidadari nu titutug ka leuwi :D  (Seperti Bidadari yang terperosok ke danau)

Saya menundukan kepala dan melemparkan senyum, "Oh God, this highheel is going to kill me.
Nah, itu sebetulnya yang terjadi. Mengapa saya mentok di kedai es krim daripada mengantarkan Mamah ke Pelaminan buat setor muka sama yang punya hajat.

"Bi....!"
"Neng...?"

Kami berteriak histeris. Ini bukan saya dengan Mamah. Mamah posisinya masih di pelaminan mengobrol dengan Mamah mempelai perempuan ketika kami berteriak . Saya berteriak dengan Neng, teman kecil dulu. 
Tidak menyangka kami bertemu di sini. Kami saling cipika-cipiki dan menanyakan kabar. Sudah hampir empat tahun kami tidak bertemu dan Neng semakin berkilau saja. 

Mamah turun dari pelaminan langsung menghampiri kami. Mamah mengenali Neng, bertanya kabar. Saya tahu mamah punya banyak pertanyaan buat Neng, tapi dia simpan saja. 
Neng mengajak kami bergabung dengan teman-temannya. Saya sadar diri, tidak mungkin saya bergabung dan meninggalkan mamah sendirian atau memilih bergabung dengan Neng dan teman-temannya mengajak Mamah. 


Mamah lekat menatap Neng dan teman-temannya. Ada rasa yang sulit dia jabarkan melihat Neng dan kawan-kawannya. Neng memang cantik, berkilau seiring dengan cerita-cerita yang menyertainya (tapi mending nanti deh cerita-cerita si Neng mah). Teman-temannya gak kalah ajaib. Kulit wajah yang kemerahan berkat pemutih, rambut berwarna, menjutai , bergantung-gantung di bahu. Neng saat itu memakai gaun satin warna krem dengan brukat dibagian dadanya. Satu temannya memakai long dress hitam, dengan belahan yang nyaris menuju ke-arah sana. Ke sana pokoknya mah. Terserah mau arah mana juga. Serta dua teman Neng yang memakai celana jeans ketat selutut, kaos ketat hitam dengan lengan bolong-bolong dihiasi blink-blink. Memperlihatkan lemaknya dan kulitnya yang tidak singkron antara kulit wajah dan badannya. Semuanya memakai selop kaca dengan hak sekitar 10 sampai 15 cm.

Oh ya, Mereka berdandan dengan make up tebal. Riasan mata yang nyaris menutup bola matanya. Tapi percaya deh, kalau di foto tampilan mereka akan terlihat bagus. Meskipun di tampilan nyata membuat bulu kuduk berdiri. Dan ada yang pakai Behel pula.

 Mereka semua merokok di pojok dekat stand ice cream, kecuali Neng. Dia asyik memainkan Handphone. Penampilan mereka mirip juri kontes dangdut yang diadakan di salah satu stasiun TV. Mamah tahu tidak boleh menatap mereka terus karena akan menimbulkan prasangka, jadi dia mencuri-curi pandang ke arah mereka.

Jadi kepikiran lagi nanya ke mamah. Kali ini saya sengaja memberikan pertanyaan pilihan ganda, biar gak pusing lagi jawabannya.

"Mah, jawab ya. Kalau Mamah melihat saya ada di kumpulan mereka, dengan memakai baju dan dandanan seperti mereka. Mamah akan? pilih jawabannya. A. Pingsan. B. Teriak"

Pertanyaan tadi berhasil mengalihkan perhatian Mamah. Mamah menatap saya.

"Saya akan meng-umrohkan Mamah tiap tahun. Puasa di Mekkah. Bagaimana Mah?" bujuk saya. Jadi inget cerita selebritis yang berhasil membahagiakan ortunya. Neng juga selebritis di RW kami. 

Beliau masih belum mau menjawab.
"Saya akan bangun rumah. Bangun mesjid juga," saya menaikan tawaran.

Mamah langsung berdiri.
"Mah, mau kemana?" tanya saya.

"Mamah mau manggil hansip." Begitu jawab Mamah. Lalu saya ngintil beliau, tak lupa melambaikan tangan pada Neng dan kawan-kawannya yang masih asyik mengasapi. Lah, Neng kamu kan bidadari masa rela diasapi seperti ikan atau daging?




















4 komentar:

  1. Segitu menakutkannya ya sampai mamah ndak mau menjawab meskipun ada iming2 umroh ehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha..
      kalau nego sama mamah memang susyaaah

      Hapus
  2. Hehehe... kenapa hansip ya? Ngga densus 88 sekalian?

    BalasHapus
    Balasan
    1. heuuu... mereka Invisible soalnya kalau hansip mah eksis

      Hapus