Sabtu, 11 Juli 2015

Mamah dan Puasa hari ke-22

Pagi. Pulang tadarusan, Mamah datang dengan wajah murka. Beliau ngomel-ngomel dengan sewot. Padahal sekarang bulan puasa di mana setan-setan diikat gak bisa berkeliaran. Lagian mamah pulang tadarusan pula. Kenapa setannya malah berakumulasi gitu yaaa?
Ternyata oh, ternyata sandal kesayangan mamah ada yang menukar. Sandal kesayangan mamah adalah selop dari kulit. Warnanya coklat muda dengan aplikasi bunga-bunga warna krem. Saya membelinya dua tahun lalu di sebuah pameran di Graha Manggala Siliwangi dengan harga bersahabat sebagai sesama peserta pameran. Halaaaaaaah, koq jadi buka-bukaan riwayat sandal sih. Anyway, sejak saat itu sandal hasil buruan dari pameran menjadi kesayangan dia. Selain modelnya yang agak vintage, sandal itu memberikan kenyamanan luar biasa buat kaki mamah.
Sialnya di Bulan puasa 1436 H hari ke 22, sandal sebelah kiri raib dan tertukar dengan sandal jepit warna fuschia buatan China (ada tulisannya jelas sekali. Sedangkan sendal mamah asli buatan Indonesia bagian wilayah Cibaduyut raya)
"Tuh, orang gak punya perasaan kali yah?!! jelas-jelas sandal mamah disimpen diatas. Terus ini kan ada haknya??" tunjuk mamah sama sandal warna fuschia dengan jengah. Sandal kesayangan mamah flat.
Jadi kebayangkan Mamah pulang dari mesjid berjalan tertatih pakai sandal yang tinggi sebelah.
"Tadi Pak Ustadz juga sempet nawarin buat diumumkan pake speaker mesjid. Tapi mamah tolak..."
Wadddduh, sampai sebegitunya. Saya membayangkan kehebohan di pintu mesjid subuh ini. Para ibu-ibu yang panik mencari sandal dan Pak Ustadz melakukan operasional standard untuk menenangkan.

"Ya, sudah Mah, kalau besok ada. Berarti ditukerin aja lagi. Mungkin masih ada rezeki." Maklum bulan puasa, edisi religi, saya serasa jadi murid Mamah Dedeh peringkat pertama.
"Besok, kalau mamah lihat sebelah lagi akan mamah ambil. Biarin dia pulang gak pake sandal." Ancam Mamah. Alisnya diangkat, biar kayak penjahat Dholim yang akan menguasai dunia.

Kadang memang sedikit repot dengan peraturan penyimpanan sendal kalau ke mesjid. Hampir gak ada aturan. Masalah klasik. Sendal-sendal akan parkir berserakan. Sering kali ada pula oknum yang sengaja menukar-nukarkan atau memisahkan pasangan sandal, biar terjadi kehebohan. Pastinya yang paling parah bukan menukar-nukar pasangan saja tapi membawa pulang sandal. Masa nanti menyimpan sandal harus digembok seperti ini biar gak hilang?
Sampai tragedi sandal jepit ini sering dijadikan pepatah, Jodoh dan rejeki tidak akan tertukar seperti sandal jepit. Bahkan putri yang tertukar bisa pulang kembali, kalau sandal jepit kemungkinan kembalinya minim sekali.
Apa mungkin diadakan lomba desain buat penyimpanan sandal di mesjid?


Malamnya kami pergi tarawih, malam itu mamah pake sandal warna ungu yang modelnya seperti kue balok. Semi Wedges, cuma datar gitu. Dia simpan lagi dengan tertib. Posisinya sedikit berubah dari biasanya. Lalu dia mengucapkan sedikit jampi-jampi biar gak ada yang jahil lagi.

Seperti adat kebiasaan walaupun bukan berasal dari tanah Arab tapi patut tetap dilestarikan :D,  jika sepuluh malam terakhir para peserta tarawih akan dimanjakan dengan snack yang akan dibagikan pada saat pulang. Memberikan kesenangan tersendiri pada pemberi snack terlebih lagi kami para penerimanya.

Mamah sudah ada di depan, terlihat celingukan. Setelah saya berhasil memakai sandal jepit hitam yang sudah bertahan empat kali lebaran. Saya menghampiri mamah. Percayalah mencari sandal setelah taraweh juga bukan pekerjaan yang mudah.

Rupanya untuk yang kedua kali sandal mamah hilang lagi. Kali ini dua-duanya. Kondisi tangan kami penuh dengan makanan, mukena dan sajadah. Saya mendengar kabar itu sedikit geli. Sambil membantu mencari saya menahan tawa. Puasa hari ke 22 Mamah diuji dengan sandal.

Entah berapa lama kami di sana dan sandal-sandal mulai menyusut dipakai oleh pemiliknya. Kami membalikkan sandal yang tertelungkup dengan susah payah. Sendal mamah yang model kue balok ini juga suka begitu, paling sering tengkurap. Kalau disuruh telentang susahnya bukan main.

Pak Suami alias bapak saya lewat dari pintu laki-laki, dia melihat kami. Eh, tapi langsung berlalu saja. Hadddeuuuh....
Akhirnya mamah pulang nyeker. Saya meminta maaf sama mamah karena tidak bisa menahan tawa.Tak lupa saya istigfhar, takut kualat mentertawakan orang tua. Takut besoknya sendal saya mengalami nasib yang sama.


FYI, subuh hari ke 24, pasangan sandal kesayangan mamah ditemukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar