Senin, 20 Juli 2015

Sekedar Nama Panggilan

Pernah sekali nama itu saya hapus dari daftar kontak. Sudah saya bakar juga kartu nama yang beliau berikan pada saat berkenalan. Sampai tidak ada  jejak  sama sekali. Itu opearsi standar toh, semacam ritual buang sial.  Maka ketika beliau mengontak saya kembali, saya tidak langsung menyahutnya dengan alasan sebagai berikut ini :
1.. Saya pikir itu tawaran asuransi. Penawaran asuransi sedang marak betul. Mungkin salah satu sebab dari peralihan semua harus pakai BPJS. Mungkin juga karena dicanangkan tahun asuransi nasional. Entah, wallahu alam bisawab.
2. Penawaran kredit tanpa Agunan (mungkin jika kredit tanpa cicilan saya masih bisa pertimbangkan)
3.Telpon penipuan. Diaku sebagai pemenang dari undian Bank, pengisian Pulsa dan sebagainya.
Ketika tahu  si beliau yang menelpon, rasanya kaget luar biasa. Lebih kesal dari tiga sebab diatas kalau tahu sudah saya reject duluan. Tapi Setelah serangan bujuk rayu dan tipu daya, alih-alih saya memblokir nomor tadi, malah kepikiran memberikan credit tittle yang signifikan.
A common name. Nama beliau itu kalau bisa dibilang pasaran sangat pasaran. Saya yakin  Orang Sunda yang posisinya di ujung dunia ada yang pakai nama ini. Kalau saya cantumkan namanya, ah, di daftar kontak bisa jadi diurutan kesekian. Bahkan anak tuan tanah di kampung Bapak yang sedang gencar-gencarnya PDKT sama bapak agar mau menerimanya sebagai menantu, pakai nama ini pula.  
Alasan lain tidak mencantumkan namanya, karena namanya itu mirip dengan teman semasa masih pakai putih-abu. Anaknya bengal luar biasa. Saya pribadi kurang suka sama dia. Dia ngakunya dulu bersekolah di pesantren. Herannya begitu pindah ke Bandung, bengalnya tidak bisa dikalahkan.
Pernah saya menegur ketika dia merokok di dalam angkot. Mungkin saat itu dia pikir saya tidak berani melakukannya tapi ketika saya menegurnya dengan pelan akhirnya dia mau mematikan rokoknya. Lalu saya katakan terima kasih karena telah mau mematikan rokok. Dia terdiam. Tiba-tiba saja kejadian itu serasa menjadi aib bagi kami berdua. Dengan kesepakatan yang tanpa harus diskusikan, saya tidak pernah menyinggung hal ini di sekolah. Saya tahu, kharisma Premannya akan luntur jika ketahuan dia bisa nurut sama perempuan. Makanya saya anggap hal itu bukan kejadian luar biasa.
Pada masa putih-abu itu saya dan si bengal memang sering adu mulut. Kami berkonflik hampir tiap hari. Anehnya, setelah sekian tahun berpisah. Terpisahkan ribuan mil pula, lalu kami dipertemukan kembali gara-gara buah karya Mark Zuckenberg.  Kami menjadi lebih akrab. Saya sering menyindirnya lalu dia membalas, “Bi pikir saya pasti jadi preman ya…?”
Saya katakan saja, “Iya! Kamu punya potensi ke arah sana. Potensi yang membuat orang tua kamu jadi gila.”
Dia tertawa. Kelakuannya memang membuat orang tua jadi merasa bersalah karena telah mengirimnya ke Bandung untuk sekolah. Tapi, dunia berputar, ada kalanya prediksi menjadi semacam warning. Sekarang dia sudah tidak merokok apalagi narkoba dan miras lagi. .
Lalu saya bilang, “Nah, mungkin karena itu kita bisa akur. Otak kamu tidak dalam pengaruh kekuatan jahat.”
Dia tertawa lagi. Setelah itu kekuatan internet menjadikan kami lebih sering tertawa untuk mengenang masa bengal dia.
            Setelah ditimang-timang akhirnya saya memberikan credit title Pak Juragan. Bukan buat si Bengal atuh, buat beliau yang mengontak saya kembali. Alasannya saya pakai nama itu, saya teringat keinginan beliau untuk mempunyai kerajaan bisnis sendiri. Mengingat beban yang disandang dipundaknya pula yang membuat dia berusaha keras mewujudkan cita-cita yang mulia.
credit tittle si beliau alias Pak Juragan

            Tapi eits, eits… cita-cita itu bukan termasuk memberikan santunan yang berharap balasan untuk para pacar-pacar terlantar dan janda-janda teraniaya yah!!! Justru dengan credit title “Juragan” saya berharap dia bersikap sebagai Juragan yang sebenar-benarnya.  Seorang Gentleman. Jika semua laki—laki adalah juragan tidak akan ada perempuan yang harus menjadi pacar-pacar  terlantar atau  janda teraniaya. Come Man, just grow Up! saya yakin dan seyakin-yakinnya, jika ada Juragan yang berlaku menyimpang, kerajaan bisnisnya akan luluh-lantak seketika. So, kalau ada yang sering gagal mungkin harus ingat kelakuan.
            Biarlah credit title ini menjadi semacam do’a dari saya agar semua keinginan dan harapan Pak Juragan terwujud. Saya tidak tahu do’a saya untuk beliau itu valid atau tidak di mata Tuhan. Karena saya bukan apa-apa bagi beliau. Meski begitu saya tidak pernah mempersoalkannya. Karena Tuhan pula yang telah memperkenankan saya bertemu dengan Pak Juragan. Tak perlu protes pada Tuhan jika akibat pertemuan itu malah menyakitkan. Tidak ada satu kejadian yang tanpa tujuan. Pertemuan saya dengan Pak Juragan tentu ada maksudnya. Meski itu sebuah pembelajaran yang pahit. Agar saya belajar untuk waspada, atau semacam penggugur dosa atas apa yang telah saya lakukan.
Dan saya sedikit teringat kata-kata Pak Juragan sebelumnya, “jika ada jodoh  bla bla bla bla….” begitu kata beliau. Ternyata setelah saya deleted, hapus sampai ke akarnya eh, nongol lagi.  Iya, itu juga pasti karena sinyalnya sedang kuat, Hahahahaha…  uppps bukan lah!  Itu semata-mata kehendak Tuhan.

Kali ini tidak akan saya hapus. Tenang Pak Juragan, anda tentu tahu saya tidak se-galak itu. Saya perempuan baik-baik dan perempuan yang  baik untuk laki-laki yang baik. Sudah hukum alam, Bapak Mario Teguh juga berkata demikian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar