Selasa, 28 Juli 2015

There Aint No Such Thing as a Free Lunch

Menyebutnya sebagai Bandar ayam memang bukan tanpa alasan. Beliau adalah salah seorang pengendali pasokan ayam di kota Bandung. Bisa jadi dia juga mampu mengendalikan harga ayam itu sendiri. Eh, kok, malah jadi su’udzon gini.
Kata dia, menjadi bandar ayam itu karena terpaksa. Terpaksa karena di kampung orang tua dan adik-adiknya butuh biaya. Terpaksa, karena di kampung mah sedikit lahan pekerjaan. Tidak ada pabrik, tidak ada gedung perkantoran. Tidak ada apa-apa kecuali ada lahan dan ayam. Terus, terpaksa karena dia gak punya keahlian yang mengagumkan. Padahal dalam ijazahnya tertulis dia lulusan SMK. SMK teknik mesin, jatuhnya malah ngurus ayam. Saya tanya pada dia soal keahlian mengagumkan itu.
“Itu lho yang seperti orang-orang sekarang. Ahli mengendalikan komputer. Bawa-bawa gadget kemana-mana. Pakai kemeja, dasi dan sepatu mengkilat.” Jawab dia setengah grogi.
“Tapi mending jadi bandar ayam lah, daripada menjadi bandar narkoba,” puji saya.
Eh, dia malah tersipu-sipu dengan pujian saya.
“Jadi bandar ayam lebih menguntungkan daripada jadi bandar narkoba. Secara Orang Indonesia itu sudah kecanduan ayam sangat. Tiada hari tanpa ayam. Bahkan pengguna narkoba pun pasti suka makan ayam. Tapi pemakan ayam belum tentu mau pakai narkoba.” Kata saya lagi.
“Ah, si teteh mah, bisa wae...” kata dia. Mukanya makin merah. Kalau sudah begini semakin bersemangat saya menggodanya. hahahaha...
Padahal tanpa dia sadari, menurut saya apa yang dia lakukan sangat mengagumkan. Di usia muda, dia sudah mandiri ( I know bukan hal yang amazing, di sinikan sudah banyak ya..). Omset penjualan ayam yang pat-pat gulipat, berlipat-lipat. Dengar-dengar dia juga punya usaha properti. Buka jasa menyediakan kakus di rest area,juga kost-an. Dia bilang juga terpaksa punya kost-an, soalnya kasihan kalau ada yang ke Bandung suka riweuh nyari tempat tinggal. Bahkan soal lahan dan ayam, saya kategorikan sebagai bagian dari Humblebrag alias merendah meningkatkan mutu. Lha, dia saja gadget-nya pake merk apple. Sudah gitu dia bilang buat main-main saja. kebayangkan kalau yang buat urusan serius dia pake gadget merk apa??
Nangka???! *bukaaan, kumaha kamu we-laaahhhh...
Intinya jangan meragukan kemampuan orang-orang yang tinggal kampung. Atau yang mengaku-ngaku diri sebagai pribadi kampungan. Kita bisa tercengang dibuatnya.
Parabola di Panjalu
Antena Parabola di Panjalu yang dijadikan jemuran (Foto Dokumentasi IG: abahgembol)


Banyak hal mengagumkan dari dia, diantaranya sang Bandar sering kali mengirimkan saya pisang buat pelengkap makan siang. Saya tahu, buah-buahan kesukaan ini tidak saya publish sembarangan soalnya suka jadi banyak misunderstanding gitu. Saya yakin, sang Bandar tahu hal ini berkat teman saya. Tapi gak apa-apa saya senang sekali dapat kiriman pisang. Apalagi dari kampung yang sengaja dibiakan tanpa campur tangan obat-obatan. 

Kemarin Sabtu, beberapa hari setelah hari raya, Sang Bandar kembali mulai beroperasi. Mengecek para nasabahnya sekalian silaturahmi. Kami bertemu di rumah teman saya yang membocorkan buah-buahan kesukaan saya itu (dengan begini si teman saya pun jadi kecipratan  oleh-oleh juga). 
Setelah berbasa-basi dan saya menikmati muka merah sang Bandar, lalu berhubung pada musim lebaran selalu ditanya-tanya oleh pertanyaan menakutan (you know what i mean. exactly!).
Sang Bandar pun tidak urung kena sydrome ini. Basa-basi berlanjut pada seputar obrolan kriteria pencarian pasangan. Jadi teringat kiriman pisang itu ternyata bukan hal gratis. Bukan tidak ada maksudnya. There aint no such thing as free lunch. Pasti ada sesuatu nyah.
there aint no such thing as free lunch


Tiba-tiba sang Bandar berkata begini dengan muka lemas, "... tapi teteh mah sepertinya gak mau diajak hidup susah. Hidup prihatin."

Saya tertegun. Lalu saya balik bertanya pada dia, "memang ada ya kang, perempuan yang mau diajak hidup susah. Hidup prihatin?"

Giliran dia yang sekarang kebingungan dengan pertanyaan balasan saya. Lah, memang betul juga kan......?
Kira-kira yang baca di sini terutama kaum perempuan, ada gak sih yang mau hidup prihatin atau hidup susah? takutnya saya saja pikirannya rada begini.
lunch


Tidak ada komentar:

Posting Komentar