Jumat, 21 Agustus 2015

Awas Nanti digampar Emergency Door!! [Review Film Mission Impossible : Rogue Nation]

Menyaksikan Kang Ethan Hunt beraksi lagi untuk kesekian kalinya di malam minggu kemarin. Saking pesimisnya gak akan kebagian tiket saya pergi ke blitz sampai lupa sisiran. 

Di Mission Impossible: Rogue Nation ketampanan everlasting Tom Cruise, sempat pula mengalihkan saya dari jalan cerita film. Sampai si akang nanya ceritanya gimana? saya bilang lupa. Soalnya Tom Cruise mengalihkan dunia ku. Dan dunia malam minggu kami langsung buram.

Eits, gak usah dibahas la yaaa.. soal itu mah. Gak penting!

Secara garis besar cerita  Agen IMF: Rouge Nation itu standar (bagi seorang yang kesulitan menyimak jalan cerita akibat melihat ketampanan Kang Ethan Hunt). Sekarang untuk film-film Mata-mata trend-nya musuh dalam selimut. Lah, pan semua negara sudah bersatu padu memerangi ketidakadilan. World Piece.
Jadi  Akang Ethan dkk harus menghadapi Agen Syndicate yang ternyata diprogram sama dengan IMF. Awalnya tujuan pendirian Syndicate buat latihan para Agen. Eh, ternyata malah dipakai tujuan lain sama Solomon Lane (sebagai tokoh sentral Syndicate) dan Chief Athlee. Dua Orang ini adalah MI6. Betul, satu Institusi sama James Bond.



Seperti Film Spionase dan film aksi laga lainnya, di sini pun setting tempat berpindah-pindah dengan cepat. Aksi kejar-kejaran terjadi di Casablanca. Pada tahu kan Casablanca itu di mana. Dan ingat ini bukan nama parfum. Kota Casablanca (bukan Parfum) adalah salah satu travel wish saya. Makanya begitu liat setting di sana. Wadduuuh, semakin gak bisa ngedip. Negeri Orange, saya suka menyebutnya begitu. Imajinasi tentang Negeri Senja dari Novel Seno Gumira Ajidarma.
Saya teringat dengan mozaik keramik yang indah, air mancur dan seorang teman asal Maroko yang ganteng rupawan dan pernah mengunjungi Bandung beberapa tahun yang lalu. Dia Bilang kalau saya sudah kesini, kapan-kapan kamu main dong ketempat aku. Laaahh.. Iya Pak, kalau sedekat Garut mah saya tiap weekend nyambangi ke sana.
Balik lagi ke Casablanca, eh film IMF. Di Casablanca mereka berkejaran menggunakan sepeda motor untuk mencuri data yang tersimpan di sebuah pembangkit listrik tenaga air. Seru dan menegangkan. Casablanca jadi sirkuit, saya gak bisa membayangkan kalau Valentino Rossi ikutan, bakalan bisa menang gak?
Di adegan ini saya pikir Benji diculik dan digantikan dengan Benji KW (pake topeng tea..) eh, ternyata enggak. Terlalu ketebak mungkin ya kalau seperti itu.

Setelah berhasil lolos dari kelompok Syndicate, Kang Ethan tersungkur karena Agen Ilsa Faust berdiri di tengah jalan. Bayangkan cuman berdiri doang gak pake senyam-senyum, itu Kang Ethan langsung tersungkur. Yaaaa... memang sudah kodratnya begitu kali yaaaa. Kalau enggak begitu nanti disangka punya kelainan.
Ilsa Faust sosok perempuan memukau. Dia itu agen M16 yang luput dari jamahan James Bond. Hehehehe... Selain cantik, jago bela diri tapi sebagai perempuan dia tidak luput dari galau. Cuma bukan galau karena cuaca jadi gak bisa menjemur pakaian. Galau karena dipermainkan sama atasannya.
Aksi dia keren banget lah. Sosok perempuan kekinian. Kalau dulu-dulu Perempuan sering digambarkan sebagai sosok jerit-jerit mau diperkosa (gambaran film silat Indonesia duluuuuu banget). Objek penderita, yang selalu nelangsa, teraniaya. Ahhhh... pokoknya, suka sedih juga menontonnya. Antara sedih, geli dan gereget.
Ilsa Faust
Mission Impossible : Rouge Nation

Terus biasanya kalau sosok perempuan jago bela diri itu selalu tomboy, nah kalau sekarang tuh. Keahlian dalam bela diri tidak mengurangi sifat feminine. Mereka tetap menggunakan hak tinggi, tetap bisa berantem pakai gaun, tetap tersenyum manis, tetap galau, tetap PMS. Saya yakin kaum laki-laki gak akan bisa tuh mengontrol PMS.
Bandingkan pula sosok perempuan pas awal IMF versi Movie ada. Berbeda sekali dengan tokoh Ilsa Faust.
Tentunya tidak hanya di IMF saja penggambaran perempuan seperti Ilsa Faust, di James Bond juga seperti itu. Yang terakhir saya ingat selain Vesper ada Jinx (Helle Berry). Tapi mungkin di film-film James Bond kesan perempuannya seperti tulisan di bak truk. Gak Ingat nama, ingat rasa. Saking banyaknya.
Penggambaran sosok perempuan seperti ini pertama kali saya lihat di Film Lethan Weapon yang ke dua. Film Jadul yang dibintangi oleh Mel Gibson. Sayangnya saya lupa pemeran perempuannya.
Mereka adalah gambaran perempuan yang bisa melawan ketika dianiaya, atau ketika ada bahaya menghadang. Tipe yang bilang "Awas nanti Gue Gampar pakai Emergency Door!!"

Kalau begitu perlukah para bidadari bisa bela diri? eits, ya perlu banget. Koruptor aja kalau disidang langsung bela diri pura-pura sakit. Masa kita-kita engga?! Masa kita akan diam jika ada yang melecehkan. Harus dilawan atuh....
Nah, kalau soal bela-bela diri di Bandung ada WSDK. Sempet diulas di acara [bukan] empat mata.
W= Woman
S= Self
D= Defense
K= (ternyata bukan khayangan) tapi Kopo-Ryu
Di sini belajar bela diri tanpa perlu jadi tomboy atau berperawakan seperti algojo. Soal WSDK mending tanya langsung deh sama pakarnya Teteh Cantik yang jago ini. Saya ingin belajar kesana. Waktunya belum cocik. Tunggu saya Ya Teh... semoga sudi menunggu aku. Selain kita buka lapak bareng lagi.
Tapi semoga jurus warisan saya masih bisa valid di jaman sekarang ini. Saya menamakannya jurus gravitasi. Semoga orang yang mau berbuat jahat langsung jadi baik seketika. Jurus tarik menarik. Kalau kita baik, masa sih akan dibales jahat.... rumusan sederhananya sih. Tetapi sebagai bidadari apa salahnya kita waspada.  Tetap harus Waspada. Hidup WASPADA!



1 komentar: