Sabtu, 19 September 2015

Hukum Gravitasi dan teori Balas Dendam

Hidup adalah gravitasi. Itu menurut saya yang menggilai sains. Sejak berkenalan dengan gravitasi saya selalu mengkaitkan segala hal dengan gravitasi. Gaya Gravitasi. Alasan perempuan pakai Bra, selain untuk estetika sebetulnya tujuan utamanya untuk mengakali efek samping gaya gravitasi. Iya gak?
*gak iya.
*Ah, biarin saja ...



Hukum ini tidak melulu menjelaskan tentang peredaraan bumi pada Matahari. Bukan hanya soal bulan yang mengelilingi Bumi. Bukan soal terjadinya empat musim atau dua musim saja. Bagi saya gravitasi itu ada di berbagai bidang. Bra adalah salah satunya. Daripada payudara mengikuti gaya gravitasi mending kita mengakali dengan antigravitasi. Dalam hal ini adalah bra.
Gravitasi dimana berbuat baik akan mendatangkan kebaikan. Bersedekah yang mendatangkan keuntungan, tentang bersyukur sehingga akan ada penambahan nikmat. Bahkan tentang jodoh, seperti yang sering Om Mario Teguh sering ingatkan.

Jodoh
sumber : Fans Page Mario Teguh
Jodoh adalah Gravitasi
Bagi saya hal itu semua memakai prinsip yang sama. Hukum Gravitasi.
Buku The Secret - Rondha Byrne,  mengupas Gravitasi. Pokoknya keren sekali hukum yang satu ini. Gak akan habis-habisnya saya memujinya.

Cerita Teteh sore ini menurut saya juga bagian dari kuasa gaya gravitasi. Maka nikmat apalagi yang harus kita dustakan? mengapa harus memelihara dendam, yang membuat sakit berkepanjangan. Sang Teteh adalah salah seorang penerjemah ide-ide saya.

Tidak terlalu sulit membayangkan kalau Teteh menikah lebih dari satu kali. 
Pernikahan pertama Teteh disponsori oleh rasa kecewa atas pemutusan secara sepihak dari pacar pertamanya sekaligus cinta pertamanya yang meninggalkan si Teteh tanpa alasan. Keluarga teteh tidak mau melihat Teteh berlarut-larut dalam duka.
Konon suami pertama Teteh ini punya wajah cukup ganteng, berkulit bersih yang membuat keluarga Teteh yakin jika Teteh akan segera melupakan pacar Teteh yang kurang ajar itu. Yang tidak cakep, bahkan kalau jalan seperti bebek. Sayangnya prediksi keluarga salah, ketika Teteh sedang hamil dua bulan, tiba-tiba saja sang Suami ganteng meninggalkan Teteh untuk menikahi wanita lain.

Pernikahan kedua Teteh tidak berjalan sukses pula. Rupanya Teteh dijadikan istri yang kedua. Istri pertamanya melakukan langkah dramatis di tengah malam. Dengan membawa rombongan aparat desa. Tak lupa Pak RT dan RW. Pokoknya menyamai mau kampanye partai lah ramainya. Bayangan saya atas cerita kericuhan pada malam itu.
"Jadi Teteh itu pernah menjadi yang pertama dan pernah menjadi yang kedua," ujar si Teteh yang mengundang decak kagum saya.
"Weiss, Teteh jagoan bisa menyamai rekor Teh Ninih," puji saya.
"Dua-duanya sakit!" Kata si Teteh memprotes pujian saya.
Ok! saya berusaha mencerna lagi karena sesungguhnya kisah dia adalah nasihat bagi saya. Harapan si Teteh sih begitu. Kalau saya menganggapnya hiburan, jadi pada hapalkan kalau saya ini kurang ajar kebangetan.

Konon sang mantan suami pertama tampan rupawan itu sudah berkali-kali nikah. Katanya lebih empat kali. Bahkan istri barunya, yang kemarin dinikahi sebaya dengan anak si Teteh.
Sang mantan suami kedua nasibnya tak kalah buruknya, dia bolak-balik diusir oleh istri permanennya. (Iya, kalau disimak lebih teliti si mantan suami kedua ini sepertinya menganut aliran yang membolehkan untuk mempunyai istri permanen dan temporary).

Belum lama ini, saya melihat mantan suami pertama Teteh sering bulak-balik ke workshop. Sulit membayangkan bahwa orang yang bolak-balik memakai seragam perusahaan otomotif itu adalah seorang playboy. Playboy yang menua tepatnya. Soal dia mengundurkan diri dari dunia ke-playboy-an mah,  saya juga sedikit meragukan. Apakah benar seorang playboy itu ada yang insyaf? Rasanya sedikit tidak masuk akal.

Yang jelas, kunjungan sang mantan sering saya manfaatkan untuk menggoda Teteh, kata saya, sang Mantan mau CLBK (Cinta lama Belum Kelar).
"Iiiih...." Kata si Teteh, langsung mengucap amit-amit dan mengetuk meja tiga kali.

Menurut si Teteh, sang Mantan suami sedang pusing mencari  menantu yang hilang. Suami dari anak perempuan dari istri yang kedua, yaitu istri yang dinikahi saat Teteh hamil dua bulan. Mantunya tiba-tiba meninggalkan anak Sang Mantan pertama Teteh. Istri kedua Sang Mantan suami pertama  masih di Arab jadi TKW. Dia sudah mewasiatkan anak itu ke sang mantan suami pertama sepenuhnya. Malah Sang Mantan Pertama ini dikirimi uang pula dari Arab, sebagai kompensasi atas perhatian dan kerjasamanya. Padahal menurut saya sih gak perlu juga, toh, dia bapaknya.
Belum lagi anak-anak dari istri yang lain yang minta biaya buat ini dan itu. Sang Mantan Suami Pertama jadi pusing. Pusing pala mantan.

Hmmm....  kisah playboy menua, yang merasa jago menaklukan banyak wanita.
Lalu saya bilang ke Teteh soal hukum gravitasi ini, soal mengapa kita tidak boleh menyimpan dendam, toh Tuhan akan membalasnya dengan seadil-adilnya.
"Hukum Gravitasi teh,"kata saya. Entah Teteh mengerti atau tidak maksud saya.
"Dulu Teteh sakit hati. Sampai miara dendam. Kalau bisa nemu tukang santet, sudah teteh santet tuh."
Nah, itu persis maksud saya.
"Iya Bi,cape miara dendam mah. Pas nemu kabar dia begini. Teteh mah langsuuuuuung....... Senaaaaang..."
Lalu kami tertawa. 
"Puas rasanya. Memangnya punya banyak istri banyak rezeki?!! Nu puguh mah Lieurrrr..." Katanya lagi.

Blessed Sir Issac Newton yang menemukan hukum gravitasi. Menerangkan kehidupan, tentang hukum-hukum semestinya.








2 komentar:

  1. tambahan judul Hukum Kekekalan Karma :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... bisa
      Hukum Kekekalan cinta aja deeeh

      Hapus