Sabtu, 28 November 2015

"Boleh Peluk Bi Gak?"

Kado ulang tahun Pink ke tujuh belas memang tidak semanis kata sweet yang tersemat dalam sweet seventeen. Pink itu keponakanan saya yang tergabung dalam kelompok the bunch of the beuceuhs lapis pertama. Sengaja keponakan saya yang banyak itu, saya bagi dalam beberapa lapis. Jadi ada berapa lapis??? ratusan. Ya, kurang lebih segituh la yaaah.


seventeen
Gambarnya milik dia

Dulu, ketika saya merayakan sweet seventeen yang pertama

**tanya : Lho emang sweet seventeen seperti PON ya? Ada yang pertama, kedua, ketiga, kesekian?  
    jawab: JANGAN NANYA!!!

Sweet seventeen terpaksa saya rayakan bersama soal-soal ujian kelulusan. Memang saya yang ujian tapi justru Mamah yang galau tak berkesudahan sampai lupa kalau saat itu saya juga sweet seventeen. Takut kalau gak lulus saya jadi frustasi. Ceunah. Siapa yang ujian, siapa yang galau. Jadi geje. Padahal mah yah, masih banyak ujian hidup yang bisa bikin frustasi. Seperti melihat Adam Levine nikahi model Victoria Secret. Itu juga sudah cukup bikin frustasi.



Saat sweet seventeen berbarengan dengan ujian, saya langsung negosisasi sama Tuhan, sambil berkeluh-kesah dan gelisah. Kalau bahasa kerennya sekarang saya mengajukan hak interpelasi.
Tuhan, mengapa di ulang tahun yang ke tujuh belas Kau kirimkan soal Bahasa Indonesia yang rumitnya lebih dari fisika dan matematika? Keluh saya pada Tuhan saat itu. Tak lupa saya minta juga pada Tuhan, hak imunintas, khusus buat yang ulang tahun mah, soal ujiannya #plisatuhlah yang mudah-mudah. Kalau enggak, berikan mukjizat atau kekuatan super agar saya langsung mengetahui jawabannya tanpa harus belajar terlebih dulu. Dispensasi gitulah...

--

Dibanding Pink, my first sweet seventeen tentu gak ada apa-apanya. Kado sweet seventeen  Pink adalah menerima kenyataan jika orang tuanya harus berpisah.  Meski sebetulnya saya, selaku kerabat jauh mereka tidak terlalu kaget dengan keputusan tersebut.

"There's no such sweet seventeen," keluh Pink. "Only bitter seventeen."
Saya gak bisa menyanggah pandangan Pink soal sweet seventeen-nya yang muram penuh nestapa.
"Orang bilang hidup itu seperti minum kopi. Harus merasakan pahitnya dulu buat menikmatinya." timpal saya "Bitter is the new sweet."

Perceraian memang tidak mudah, bagi siapa pun. Bagi Pink yang terdampak serius maupun bagi saya yang mendapati kabar buruk itu. Kecuali, perpisahan Jhonny Depp dan Vanessa Paradise tapi aaaah, sudahlah Jack Sparrow itu adalah ujian bagi kaum hawa yang bisa bikin frustasi hebat.

"Emang sekarang Bibi suka minum kopi?" Pink terperanjat dengar jawaban saya.
"Enggak!" jawab saya sambil senyam-senyum, malu sendiri. "Itu juga katanya...."
Pink hapal betul, kalau bibi-nya ini gak bisa minum kopi. Keinginan untuk tampil lebih gaul dengan nongki-nongki di warung kopi sambil memesan Robusta dari Toraja selalu ada, tapi apa daya perangkat dalam tubuh gak compatible.

"Pink, kecewa banget sama Mamah dan Papah Bi," kata Pink lagi, kali ini matanya mulai berkaca-kaca. Haddduh, saya juga hampir-hampiran ikut menangis jadinya. Tapi alam bawah sadar saya langsung ngasih sugesti, Keep Calm and stay Strong. Ingat kita ini cewek Setroooog!!

"Gak usah pusing mikirin mereka. Pink mah fokus saja belajar, Fokus apa yang Pink suka. Sukses lah di sana." kata saya diplomatis. Gak sedikit pun saya bermaksud menasehati atau menggurui. Laah siapa saya lageeeh...

Tapi dalam hati, jujur saja saya takut. Saya takut akan masa depan Pink gara-gara benturan ini. Maka pada kesempatan curcol itu saya selipkan juga kalimat-kalimat ini. Ini bukan nasehat, sejujurnya ini ungkapan kekhawatiran saya saja. Saya Toh, cuman orang tua KW. Malah bukan orang tua. Saya Orang muda (harap diingat ituuuuh!) :D

"Sebentar lagi mereka akan tua. Pada masa itu adalah urusan kita untuk mengurus mereka. Biarkan saja sekarang mereka bersenang-senang dengan kelakuannya. Tapi lihat saja suatu saat nanti, mereka akan meminta bantuan kita. Amit-amit Pink ya, kalau misalnya Papah kena stroke, mau gak mau Pink juga yang akan ngurusin. Bener gak?"

Pink hanya mengangguk-angguk. Memang saya terlalu diplomatis, malah mengandaikan kemungkinan horor yang terjadi pada orang tua Pink, terutama papahnya. Saya jengkel juga sih, kalau mendengar kelakuan Papah Pink sebagai pemicu utama perceraian. Berkali-kali Papah Pink selingkuh. Pink memergoki salah satunya.
Sayangnya saya juga gak bisa berorasi untuk mengungkapkannya seperti oknum buruh yang menuntut Hak kehidupan layak yang termasuk didalamnya cicilan motor sport dan iPhone seri terbaru .

"Jangan dendam, jangan menyalahkan mereka kalau masa depan kita hancur gara-gara mereka. Biarkan pernikahan mereka saja yang hancur, masa depan Pink mah, jangan atuh." Kata saya yang ikutan terisak. "Kalau kita terjerumus, masa depan kita hancur, itu karena pilihan kita. Bukan salah mereka."

"Iya Bi." Kata Pink lagi, "Bi, boleh peluk Bi gak???"

Aaaah, akhirnya saya bisa menyembunyikan air mata saya dibalik rambutnya.

Happy sweet seventeen My Dear Princess 




seventeen
Happy sweet seventeen Dear






2 komentar:

  1. Sabar yah, Pink. Papah ga boleh begitu tuh

    BalasHapus
  2. Iya siiiih, tapi populasi manusia seperti papah pink kok makin banyak aja.

    BalasHapus