Minggu, 02 Oktober 2016

Delcont: Hilang Satu Tumbuh Seribu

Delcont atau delete contact menjadi kosakata baru semenjak era Blackberry tiba. Delcont adalah sebuah kegiatan dalam rangka menghapus jejak pertemanan (daftar kontak teman). Biasanya yang terkena dampak delcont sedikit misuh-misuh, merasa kecewa dan berujung pada dendam kesumat. Eh, kenapa saya sok tahu begini yah, mengatakan bahwa mereka tidak bisa menerima kalau dirinya ter-delcont.

Meskipun prediksi ini tidak akurat, karena hanya hasil pantauan dari status BBM, Facebook, Twitter semata. Tapi entah lah, otak saya ini memang termasuk otak kekinian yang mainstream. Kadung mempercayai tulisan-tulisan pendek galau yang tersebar dengan cepat melebihi kecepatan cahaya. Padahal mungkin saja ketika dia menulis betapa merana dirinya ter-delcont. Dia menulisnya sambil berpesta pora. Who know. Siapa tahu. Tahu bulat lima ratusan.

Ini cerita saya yang ter-delcont dengan tiba-tiba dan membuat dunia saya....


Ya, biasa-biasa juga sih, tapi meski biasa izinkan saya berbagi dengan anda. Da aku mah apa atuuuh... hanya rakyat jelita yang terdampar di semesta raya.


Kami dipertemukan oleh Tuhan karena alasan geografis. Erik, Ibang dan saya. Rumah tinggal kami ada dalam satu kelurahan, satu jurusan angkot, berbeda RW. Agak sulit mengelak kalau kami tidak mengakui sebagai teman satu sama lain. Soalnya berbagai macam kesempatan seolah-olah semesta mempertemukan kami terus-terusan. Jadi tidak ada alasan kami untuk menolak kuasa alam.

Ketika saya dan Ibang masih menggunakan HP "Nukieu", Erik sudah menggenggam telpon pintar keluaran paling baru (saat itu). Ah, pokoknya Erik itu mengganti-ganti gagdet semudah membeli gorengan. Beda dengan saya atau Ibang. Ada gadget baru keluar paling kita bisanya puasa aja. Puasa menahan keinginan. Da atuh, gimana coba.
Boleh lah urusan kekayaan diantara kami Erik paling tajir. Meski dengan sangat hormat, baik saya dan Ibang tidak pernah sedikit pun menyandarkan nasib pertemanan kami dengan sokongan dana dari Erik. Tidak pernah, karena kami tahu Erik itu pelit. Hehehehe...
Untuk urusan asmara, Ibang adalah juaranya. Sulung dari 12 bersaudara ini memang paling bisaan. Semenjak saya kenal dia, belasan wanita mengaku menjadi teman dekatnya. Lalu tak lama setelah lulus kuliah dia mempersunting Fatma. Teman kuliahnya, seorang perempuan pintar asal Cianjur, juara lomba debat. 

Ok saya tahu pemikiran saudara-saudari pembaca yang budiman. Saya kalah telak kan dibanding mereka. Ya, saya kalah dalam urusan ketajiran maupun asmara. Tapi biarlah, orang sabar disayang Tuhan.


Jumat sore, saya mendapat telpon pengaduan dari Erik. Sepatu baru yang dibeli di Jalan Riau minggu lalu, malahan mah saya pisan yang nganterin beli sepatunya juga. Hilang pada saat jumatan. Atas dasar apa Erik ini jumatan pake sepatu baru? Kalau untuk sekedar pamer, riskan sekali. Mau riya di hari Jumat, azab langsung dibayar kontan. 
Berita duka cita ini, rencananya mau langsung saya laporkan via BBM. Tetapi tiba-tiba saja kontak atas nama Ibang sudah menghilang. Sekali lagi saya cari. Eh, beneran sudah tidak ada. Tanpa pikir panjang saya langsung menelpon Ibang. Bukan mempertanyakan soal kontaknya yang hilang tapi berita duka cita ini harus segera disampaikan.

Ketika terhubung Ibang langsung mengambil alih pembicaraan. Belum sempat saya kabarkan berita kehilangan sepatu Erik yang harga aslinya 3 juta sekian setelah didiskon menjadi 1 juta sekian dan itu pun nganjuk menggunakan kartu kredit. Mengenaskan bukan?
"Bi, ma'af kontak kamu saya deleted," Ibang langsung meminta ma'af.
"Oh ya, kenapa?" saya jadi penasaran.
"Duuuh, aku tidak tahu alasannya apa, tapi Fatma minta agar saya tidak menyimpan kontak kamu."
Saya langsung terdiam. Otak saya muter-muter sampai lupa menyampaikan berita duka cita.
"Saya tidak tahu Bi, tapi kehamilan yang kedua ini benar-benar aneh. Fatma cemburu sekali sama kamu."
"Kok bisa?? Dia kan tahu siapa aku, masa cemburu sih? apa aku lebih seksi gitu?"
"Iyah bisa jadi." Jawaban tegas Ibang. Tuuuh kan, terkadang punya body seksi itu membawa petaka buat yang lain. 
"Semalam dia bilang lagi, aku boleh berteman dengan siapa saja asal jangan sama kamu, Bi."
Iiiih.... Makin aneh saja. Mana bisa?? Usia pertemananan saya dan Ibang itu bisa masuk usia golden memories.
Sesorean saya merenungi percakapan saya dan Ibang tadi. Jika soal issue seksi dan masalah penampakan saya , banyak teman-teman Ibang yang lebih seksi dan cantik dari saya (plisss atuh laaah...) jadi saya yakinkan pasti bukan karena itu.

Saya tidak begitu akrab dengan Fatma, sepertinya dia memang cenderung menjaga jarak dengan kami. Tetapi ketika hamil pertama dulu Fatma tidak se-ekstrim itu sikapnya pada saya.
Setelah dipikir-pikir lagi, ini bukan soal Delcont, tetapi rasa. Rasa pertemananan yang terlalu dekat memang bisa berdampak. Saya sih, menyadari selama ini saya memang dekat dengan Ibang (dan Erik, tentu saja). Mungkin ada beberapa sikap saya yang membuat Fatma kesal. 

Apalagi dalam kondisi hamil, di mana hormon menguasai nalar. Ah, saya saja kalau PMS kadang sensitifnya sampai tingkat dewa. Apalagi hamil, tingkat kekacauan hormonnya luar biasa.

Ibang Sahabat kami, tapi sekarang status dia sudah punya istri dan anak. Pasti berbeda, tidak seperti yang dulu. Meskipun hingga sekarang kami merasa berumur (termasuk umur psikologis) seperti ketika pertama kali bertemu. Mengeluarkan joke-joke yang sedikit sarkas, tertawa dengan keras, saling meledek. Bertemu dengan mereka serasa kami mengidap sydrome ABG forever.  
Ya, sudah lah di delcont juga tidak apa-apa. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Ketika punya suami kelak. Terus hamil dan suami saya malah hahahihi sama sahabatnya. Tentu saja saya ingin menimpuknya.

Tiba-tiba saja Ibang menelpon masih dengan perasaan bersalah, "Bi, biar saja kalau kita tidak bisa BBM-an. Kan masih bisa Whatsapp-an, line, apalah-apalah."

Hihihi, saya jadi merasa bego juga. Mengapa harus berprasangka lain-lain karena kasus delcont ini. Masih ada whatsapp, telegraph. Kalau memang butuh amat kan masih bisa sms, telpon. Kalau sial juga masih bisa ngirim utusan Hansip kelurahan untuk mengirim pesan ke rumah keluarga besarnya.


Dua hari kemudian, Sebuah ajakan pertemanan masuk di BBM saya. Dari Fatma. 
Ini semacam jebakan batman, atau apa?  Jika saya tolak pasti ada aksi susulan. Jika saya iya kan... entah apa sih yang akan terjadi. Mungkin "WORLD PEACE."
Ya, mungkin tidak ada pilihan lain lagi. Saya terima ajakannya.
Setelah saya iyakan, selang sepuluh menit kemudian Ibang yang mengajak saya berteman kembali di BBM.

Setelah di iyakan, dia langsung memberikan pesan singkatnya. "Ini atas perintah Fatma. Meski  sudah di-delcont dia masih tetap kesal sama kamu. Dan memutuskan jadi teman kamu."

"Hati-hati lho, nanti anaknya malah mirip dengan aku."
"Oooooh tidaaaaaaaaaaaaaaaaak. Terima kasih," Saya tahu Ibang bersungguh-sungguh menuliskan pesan terakhirnya itu.

Intinya. Saya, Ibang dan Erik. Kami bersahabat. Dulu, sekarang dan nanti. 
Don't worry jika di-delcont. Hilang satu tumbuh dua, eh seribu.

18 komentar:

  1. Untung saya seumur-umur ga pernah pake BBM..jadi ga pernah ngerasain di-delcont :D. Tapi untunglah udah baikan lagi yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sering kali BBM menjadi biang kerusuhan.
      Saya pun lambat laun mulai mengurangi

      Hapus
  2. Sepertinya kadar persabahabatan jika sudah menikah jd 'berbeda' yah. Harus ada yg dijaga; perasaan pasangan masing-masing:")

    BalasHapus
  3. Mesem-mesem pas baca bagian ini...
    "Ya, saya kalah dalam urusan ketajiran maupun asmara. Tapi biarlah, orang sabar disayang Tuhan."
    Aaah, itu aku banget hehe

    Salam kenal, Mbak...

    BalasHapus
  4. xixixiixixi
    Aku ada temannya :D
    Salam kenal

    BalasHapus
  5. Daku pun begitu dengan sahabatkuh dulu... setelah menikah ada banyak hal yang harus dijaga :)

    BalasHapus
  6. Wasap aja ngga kepegang.. apalagi bbm.. ngga kebeli.. hehe. Pake minyak tanah aja deh. Salam kenal Mba Bi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haddduh ini telat banget si ekeuuh. Nyasar di khayangan heula ini teh. Ma'afkeun.
      Salam kenal juga Mbak Astrid.
      Iya lebih aman jangan pake BBM. Pake BBG Aja, mursida

      Hapus
  7. Baca ini masam mesem
    Pernah dicemburui sama pacar temen tapi skrg jadi lost kontak
    Mudah-mudahan akhir nasibnya sama kaya kakak ya

    BalasHapus
  8. :D ha ha ha ha..SUKA!! aku sampe tuntas tas bacanya...lucu juga ya ada peristiwa delcont2 an begini...duuh semoga mbak Fatmanya ngajak ketemuan trus masak atau makan bareng gtu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku diundang ke Ultah anaknya Mbak. Setelah itu dia bombardir pake broadcast dagangan. Ya, disyukurin aja :'(
      hihihi

      Hapus
  9. Peristiwa delcont yang cukup unik
    tapi lucu juga hehehe
    persahabatan yang berubah setelah pada nikah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup...
      Tapi semua ada fase-nya
      Iya kan?
      ga iya yah...
      :-(

      Hapus
  10. Hohohoow, saya udah berapa bulan ini gak berBBMan, Mbak. Males BBM Andro banyak iklannya sih.
    Di delcont ama sahabat sendiri itu rasanya gmana ya Mbak? Mana gtu tiba2 ajak balik temanan plus ada mata2nya pula yaaa hihihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu... BBM itu seperti itu.
      Beruntung sekarang sering Error itu BBM. xixixixi

      Hapus