Sabtu, 21 Januari 2017

Didukung Oleh...

Awal tahun ini dibuka dengan kabar mencengangkan yang dibawa oleh Mamah. Dalam hati saya juga ingin menyangkal kabar itu. Tidak ingin memercayai tapi apa daya garis batas sudah malang melintang dari pintu pagar hingga pintu masuk rumahnya. Ngerii sih.
Sumber : skalanews.com


Rumah yang dimaksud adalah rumah salah satu teman mengaji Mamah yang sangat dibanggakan. Bagaimana Mamah tidak bangga? Berkali-kali Mamah  memuji kebaikan Bu Beliau (sebut saja begitu) karena tidak pernah pelit. Sering meneraktir, membuat seragam kegiatan untuk kelompok pengajian mereka.

Kasus yang menimpa teman Mamah itu kasus yang mainstream di negeri ini.  Kasus korupsi. Pengadaan beras buat warga miskin. Haddduh, suka miris kalau begini. Nih, koruptor semiskin apa yaaaa? Sampai tega nyolong beras warga miskin. Lebih miskin dari yang ditolongnya.


Kelompok pengajian Mamah memang banyak kegiatannya selain mengaji. Menurut saya tidak hanya kelompok Mamah saja, tetapi di hampir setiap kelompok mengaji yang ada di Bandung, Entah kalau di kota lain.

Ustadzah yang mengisi tausiyah sering kali dipakai sebagai duta untuk produk gamis dan kerudung. Sesekali Mamah pulang membawa kosmetik dan Pashmina. Rupanya pada hari itu ada pembagian gratis kosmetik dan pashmina plus katalog. Dan esok harinya Mamah mulai merengek untuk ikutan nyicil baju-baju dan kosmetik dari katalog, Pinterrrrrrr....

Kegiatan sekunder lainnya (selain dari sepulang mengaji ada demo alat masak dan kompor hemat energi) dari kelompok pengajian ibu-ibu ini adalah menjadi audience di televisi swasta dari mulai acara religi hingga yang acara musik baik itu musik beraliran dangdut semi kompetisi hingga acara musik berbau nostalgia di mana emak-emak ini bisa ikutan bernyanyi.

Wisata religi. Mamah paling senang dengan kegiatan yang satu ini. Jalan-jalan mengunjungi mesjid-mesjid besar yang berada di seputaran kota Bandung hingga keluar kota. Menggunakan travel agen tentunta. Kebayang lah kalau menggunakan angkot. Pasti supir angkotnya akan menyerah.

Nah, dalam rangka mendukung acara tersebut Bu Beliau ini adalah donatur untuk kegiatan-kegiatan tadi. Selama perjalanan biaya akomodasi dan transportasi sering kali ditanggung oleh Bu Beliau. Ada yang merasa aksi Bu Beliau itu menindas ibu-ibu lain yang ingin unjuk kekayaan. Tapi sebagian besar lainnya adalah sebuah berkah (termasuk di dalamnya Mamah).

Hingga hari kedua puluh di bulan Januari  Mamah masih gundah, Pasalnya tidak hanya rumah tetapi seluruh asset Bu beliau disegel oleh pihak berwenang. Berikut ini petikan dialog saya dengan Mamah yang sedang gundah gulana.

"Dikotek-tak sampai bubuk-bubukna lho, Bi." Kata Mamah yang wajahnya terlihat kebingungan.
"Eta pisan Mah, soalna kan harus tahu aliran dana yang dipakai korupsi mengalirnya kemana. Apa ke baju, tas, kerudung, dibayar buat agen Beus?"
"Hadduh siah Bi, kumaha atuh ieu. Nanti Mamah bagaimana?"
"Pan Mamah apal, tukang jahit Dimas Kanjeng aja sampai diperiksa. Komo deui yang kasus siga Bu Beliau." Saya sengaja membuat suasana makin keruh :D . Biar Mamah makin was-was.
"Terus engke Mamah aya bahan dipanggil kitu?" Kata Mamah lagi setelah lama terdiam.
Setelah saya juga menikmati keisengan membuat mamah was-was. Tapi dari raut mukanya lebih was-was ketika melepas saya pergi camping di temani Ibang dan Erik.
"Iya laaaaah. Maenya engga. Mungkin mamah juga menikmati hasil korupsinya."
"Iiiih Mamah kan teu apal. Uang na dari mana?" Terus Mamah nyerocos. Membela diri kalau dia tidak terlibat sama sekali.
"Nah, itu dia. Kita teh harus berhati-hati. Kita harus tahu dananya dari mana. Jangan maen sabet aja, atuh Mah."
Tanpa disadari banyak kegiatan keagamaan yang digunakan sebagai pencucian harta. Hasil korupsi digunakan untuk membangun mesjid atau menyantuni anak yatim. men-support kegiatan seperti yang dilakukan Mamah dan teman-temannya. Mungkin dengan seperti ini akan mensucikan harta tersebut. Tetapi saya yakin malaikat tidak bisa disogok. Dan Tuhan lebih tahu.

"Maenya Mamah harus nanya dulu. Uangnya dari mana? Atuh teu etis kalau gitu mah."
Dalam hati saya sih, pengin ketawa melihat ekspresi Mamah.
"Kalau Mamah dipanggil jadi saksi, Mamah mah maunya ditanyainya sama Pak Antasari Azhar."
Muka Mamah terlihat merona. Teringat ketika Pak Antasari Azhar menjadi sumber berita Mamah begitu memujanya. Dia sangat terpesona mendengar suara Pak Antasari yang  menggema dan berwibawa.
"iiiih, ya ga bisa atuh. Kan, dia mah bukan penyidik KPK. Memang Mamah mau ngajak dia duet nyanyi ya?"
"Pak Abraham Samad atuh?" tawar Mamah.
"Yaaa.. gak bisa. Mamah mah paling ditanyainya sama Pak Moeldoko." Biar nambah ngaco sekalian.
"Gak mau ah, galak."
Saya membayangkannya sudah ketawa-ketawa. Mungkin Pak Moeldoko yang akan kebingungan kalau mewawancara Mamah mah.
"Bi..."
"Ya Mah!"
"Kalau misalnya dipanggil jadi saksi Mamah harus pakai baju apa?"
Haduuuuuuh gubrak.

Amit-amit jangan sampai atuh Mah....

*  terjemahan bebas
Dikotek-tak sampai bubuk-bubukna = dicari sampai akar-akarnya
Eta pisan Mah =  betul sekali
Hadduh siah Bi, kumaha atuh ieu = bagaimana ini
apal = tahu
Komo deui yang kasus siga = apalagi kasus seperti
engke Mamah aya bahan dipanggil kitu? = nanti Mamah ada kemungkinan dipanggil begitu?
Maenya = Masa..
Mamah kan teu apal = Mamah kan tidak tahu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar