Minggu, 12 Februari 2017

V E R S I

Perkara ma’af-mema’afkan umumnya melibatkan dua pihak. Pihak pertama biasanya dipegang oleh yang memohon ma’af dan pihak kedua sebagai pemberi ma’af. Bagi keduanya perkara ma’af-mema’afkan pasti terasa berat. Pihak pertama  sebagai pemohon akan terasa berat karena harus meniadakan gengsi. Memotong urat malu. Menghilangkan rasa kalah atau mengenyahkan rasa terintimidasi. Pihak kedua pun tak kalah berat.

Apakah dengan memberi ma’af semua masalah akan selesai?

Di lingkungan saya akhir-akhir ini sering kali menemukan kasus KDRT. Biasanya memang banyak dialami oleh kaum perempuan, tetapi setahun belakangan saya bertemu dengan suami yang mengalami KDRT yang dilakukan oleh istrinya. Hmmm…. ajaib bukan? Suami mengalami KDRT. Pertanyaan saya umum seperti pertanyaan kebanyakan. Mengapa suami yang seyogyanya imam keluarga. Seorang pemimpin tetapi ‘keok’? Jawabannya diplomatis sekali, biar tidak berpanjang-panjang masalahnya. Malas untuk beradu argumen lalu membiarkan sang istri melampiaskan kemarahannya dengan mencabik atau mencakar bagian tubuhnya. 
   
Kata ma’af berhamburan tanpa makna. Dan akhirnya perpisahan menjadi pilihan. Berpisah membuat kehidupan keduanya lebih damai.

Seorang teman pernah menceritakan ketika ayahnya lebih memilih ‘wanita lain’ dibanding ibunya. Teman saya sangat kecewa dan seumur hidup dia membenci sosok ayah. Hingga pada satu hari ayahnya datang kembali dengan keadaan sakit. Tentu saja dia menentang kehadiran ayahnya. Lambat laun dia merasa kehadiran ayahnya dijadikan arena balas dendam. Ayahnya yang tak berdaya mulai menjadi sasaran amukan kalau teman saya lagi bad mood. Apalagi kalau PMS tiba, habis tuh ayahnya.
Dan menurut dia, dia merasa seluruh laki-laki yang dia temui itu mirip ayahnya. Dia merasa terus harus berkompetisi dengan semua laki-laki dan memaksa diri harus menjadi pemenang.

“Lama-lama aku cape Bi,” Kata dia.

Saya yang mendengarkannya juga merasa capek. Secapek-capeknya mengamati lini masa yang terus didominasi oleh isu pilkada. Teman saya ini ibarat golongan yang kecewa berat, kalah dalam pilkada lalu terus-terusan mengutik-utik. Capek banget membayangkannya. Apalagi nanti Pilpres. Mending tutup aja gitu yah medsos-nya?

Akhirnya dia memutuskan berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan pikirannya. Berdamai dengan hatinya.

 Dia mulai belajar memahami ibunya yang ‘mau-maunya’ menurut dia merawat ayahnya. Padahal sudah berulang kali menyakiti mereka. Dia mulai ikhlas menjalani. Ikhlas melihat penampakan ayahnya di kehidupan sehari-hari.

“Mungkin orang tua bisa memilih anak favorit mereka. Tapi kita tidak bisa Bi, orang tua kita ya itu. Dia Ayahku. Kita tidak bisa memilih jadi anak siapa. Kalau bisa memilih mungkin aku sama Tuhan mau minta jadi anak Barack Obama. Tapi kan engga?” Kata Teman saya. “Mungkin mereka bisa semena-mena terhadap kita. Mungkin aku juga bisa meninggalkan dia dalam keadaan sakit. Membalikan semua perkataan dia yang menyakitkan. Dan Tuhan memberi kesempatan untuk membalas….”

“Membalas dendam maksudnya?” potong saya.

well, iya…. Tapi apa bedanya aku sama dia Bi, kalau aku semena-mena sama dia. Aku merasa menjadi orang yang aku benci.”

Fix! Ma’af-mema’afkan berlaku juga untuk posisi tunggal. Diri sendiri.
Acapkali dengan membenci kita menjadi seseorang yang kita benci. Ya, seorang haters adalah kekasih yang mencintai dengan versi lain. Seorang pemerhati sejati. Apapun tindak tanduk orang yang kita benci menjadi pusat perhatian kita. Lalu tanpa kita sadari kita menjelma menjadi orang itu.


Meninggalkan (baca: berpisah) atau berdamai adalah sekian banyak versi dari efek mema’afkan. Apapun itu pilihan dari mema’afkan dan memohon ma’af seharusnya bisa untuk menciptakan kedamaian. Setidaknya buat diri sendiri.

Ma'afkan!

6 komentar:

  1. Betul (paragraf terakhir).

    Jadi gimana ini habis pilkada lalu pilpres 😣
    -Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, sekarang saja sudah riweuh.
      Semoga Kakang Mark bisa menangkal dan menjadikan facebook fun again :D
      Pengennya

      Hapus
  2. Setuju mak. lebih didahulukan memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. sama seperti saat darurat di pesawat, yang pakai masker oxygen kan harus kita dulu baru bantu org lain.....tulisan yg bagus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, sudah berkenan membaca.
      Iya, masker oxygen kita pakai duluan. Kalau mau bantu dengan pernafasan buatan.
      Euuugh.. ini mah yaa

      Hapus
  3. Pernah pas pulang ke Sby, tetangga ibuku ada KDRT. Eh tetep aja yg cewek gk mau ninggalin cowoknya :(

    BalasHapus