Minggu, 19 Maret 2017

Ustadz dan Poligami

Pernah suatu kali, Mamah pulang dari wisata religi misuh-misuh. Rupanya wisata religi kali ini membuat dia kesal sampai ubun-ubun. Hingga keluar janji-janji politik seperti yang sedang marak saat ini. Maksudnya kalau ada satu dan lain hal bisa dilanggar ☺.
Janji Mamah saat itu adalah dia tidak akan mengikuti wisata religi yang akan dikelola oleh si Ibu M atau menggunakan jasa travel wisata xx.
Rombongan yang seharusnya menjadi audien Ustadzah yang sedang nge-hits. Yang suka dicurhatin. Tiba-tiba menghadiri ceramah Ustadz I. Ustadz terkenal juga. Apalagi dengan aksi-aksi kemarin. Moal bireuk. Kahot. Kawentar.
Tak hanya Mamah, teman-teman rombongan Majlis Taklim yang lain hampir merasakan yang sama. Kecewa. 
Kecewa karena Ustadz I adalah salah satu Ustadz yang berpoligami. Pada saat itu, kata Mamah dua istrinya ada. Mendamping Ustadz I memberi Tausyiah. Kebayanglah perasaan Mamah dan rombongan.
"Dipamerin kitu Bi," kata Mamah. Dari nadanya Mamah kesal sangaaad.
Yessss! bagi kami isu poligami itu sangat sensitif. Bisa membangkitkan sisi jiwa kejam nan bengis dalam diri seorang perempuan. Kalau dalam bahasa Sunda mah isu poligami itu seperti ngahudangkeun maung saré. Bring the evil side, bahasa lain na mah.
Kalau kaum perempuan sedang membahas isu ini, pasti akan beringas. Keberingsan anggota Gank motor di Bandung mah lewaaaaat. Pasukan yang ngaku-ngaku cyber dan membabat akun-akun di dunia maya juga lewaaat! Jangan macam-macam saja. 

Dulu juga saya sempat kagum pada seorang Ustadz, teman saya sempat menegur kekaguman saya pada Ustadz itu.
"Jangan terlalu berlebihan. Bla... bla... bla.... kultus individu," kata dia mengingatkan saya.
Saya menolak waktu dia menceramahi saya apalagi masalah kultus individu itu. Teu ngarti. Kata saya. 
Dulu, hampir semua anak perempuan menyukai Aa Ustadz ini. Banyak buku-bukunya saya koleksi. Dan suatu ketika, dari siaran radio saya mendengar dia berpoligami. Pret! 
Sejak saat itu saya sudah tidak ada hasrat untuk membaca buku-bukunya yang penuh kebajikan. Dalam hati, saya bilang "speak for your self Sir..."

Jamaah Aa Ustadz ini memang menurun secara drastis ketika kasus poligaminya tersebar. Tentu saja jemaah kebanyakan ibu-ibu dan nona-nona remaja yang mencari cinta yang halal. 
Tapi kata Bapak O, saat ini Jamaah ibu-ibunya mungkin berkurang. Justru berkat poligami jemaah bapak-bapaknya malah meningkat pesat. 
"Ingin tau kiat-kiatnya, " Bisik Bapak O didukung sama Bapak-bapak yang lain. 
Wejangan

Kami, saya dan Mamah juga para wanita pada umumnya memiliki padangan yang sama mengenai poligami. Poligami itu menyakitkan. Bahaya laten.

Tapi ada kok, wanita yang malah menyarankan suaminya untuk berpoligami.
Ya, pasti ada. Selalu ada anomali.

"Perempuan yang dipoligami itu, berarti menunjukan betapa dia sangat mencintai suaminya. Ibaratnya dia rela minum racun yang mematikan." Kata Mang Hendar, montir simpanan sebuah klub mobil jadul.
Dari Mang Hendar yang bertampang sangar ini, saya mendapat sudut pandang lain mengenai poligami versi pria.
"Sok geura pikiran Bi, perempuan itu memang kodratnya untuk diperhatikan, dimanja. Menjadi the one and only. Bukan jadi number one, terus ada number two, number three atau number four. Dalam hatinya pasti sakit. Rasa sakit ini adalah racun yang mematikan secara perlahan. Mun ceuk kasarna mah, perempuan yang mau dipoligami itu menyodorkan pedang pada suaminya. Pedang yang akan membunuhnya."

"Paehan we sakalian."

Secara geologis jika Mang Hendar berpoligami itu sangat memungkinkan. Bekerja di bengkel mobil jadul horang kaya. Jika ada touring atau event mobil, SPG-SPG mobil tidak perlu diceritakan lagi kemolekan mereka. Tapi Mang Hendar setia dengan Bi Wati. Perempuan yang telah memberinya tiga anak yang sudah ABG.
Mang Hendar yang gondrong, typikal anak Gank banget (dan konon kabarnya Mang Hendar memang jebolan Gank motor yang paling populer di Bandung) sedangkan Bi Wati yang kalem, suka membaca novel, tidak suka dandan tapi jago fisika. Tentu saja, da Bi Wati guru Fisika.

 Minum racun karena saking mencintai. Jadi inget Juliet yang minum racun demi Romeo.

"Bersyukurlah, maka nikmatmu akan bertambah." Dengan mengutip ayat Ibang memberikan komentarnya mengenai poligami yang dilakukan oleh Seorang Ustadz dan beritanya ramai di semua program gosip. Tak tertutup di akun IG dimana saya adalah follower-nya. Sudah 7 tahun dan baru ketahuan istrinya setahun belakangan.
"Ya Allah, Saya bersyukur punya istri cantik, sholehah, bageur, cageur, pinter.... lalu Allah memberikan saya Raisa, Maudy Ayunda, Nabila," Ibang mengangkat tangannya seperti yang sedang berdo'a.
"In your dream Ibang!" timpal saya. Saking menghayatinya saya mengucapkan kalimat tadi dengan mulut yang entah membentuk kurva atau gelobang longitudinal.

6 komentar:

  1. Sama..paling males sama yg poligami dgn berbagai alasan pembenaran. Apalagi yg poligami semacem ustad terkenal yg banyak pendengarnya. Alesannya aya wae diada-adain. Bahaya 😡.

    Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai public Figure sering kali membuat kecewa. Asa mendingan Action Figure jadinya.

      Hapus
  2. Ngobrol masalah ini menarik, dan pasti panjang.
    Tapi yang pasti adalah, walau syaratnya cuma 1 (setelah sudah menikah) yaitu adil, tapi kalau dikaji lagi syarat yg cuma satu ini beratnya minta ampun.

    banyak orang akhirnya menggampangkan poligami dengan berbagai alasan.

    tapi yang pasti poligami itu diperbolehkan oleh Allah dan dicontohkan Rasul, mungkin banyak yang tidak sadar bahwa syaratnya berat.

    ceuk saya maah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syarat dan Ketentuan berlaku.
      Seperti Kartu Kredit.
      Kasus Pak Ustadz mau poligami dia lupa validasi dulu ke istri dan keluarga istrinya

      Hapus
  3. hahaha... sudut pandangnya beda-beda yak

    kalau aku siiih, sah-sah aja orang lain mau poligami atau enggak, asal adil
    tapi nggak sah sih kalo yang mau poligami itu suami sendiri

    >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip! berarti sama. Sama seperti wanita lainnya.
      Ya, semoga tidak ada wanita yang dipoligami.
      Kasihan.

      Hapus