Jumat, 21 Juli 2017

TIGA KALI

Cukup tiga kali pertemuan, Lala akhirnya resmi berstatus menjadi istri. Meskipun pertemuan pertama bisa dikategorikan ilegal. Saat itu Lala sebetulnya tidak diperbolehkan melihat wujud laki-laki yang akan mempersuntingnya. Lala hanya diberitahu sifat sang calon. Oleh Ummi, wanita yang sudah Lala anggap sebagai ibunya sendiri. 
           "Baik. Ramah. Bertanggung jawab. Pengertian."  Standar impian para perempuan. 
Seolah mendukung rasa penasaran Lala, tiba-tiba angin mendorong pintu dan membuat sedikit celah. Di ruang itu, Abah, suami Ummi sedang mem-briefieng laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya. 
          "Cantik. Putih. Langsing." Kata Abah. 
*Heuuuu ... hukum audio-visiual  
Tidak disangka ketika Lala mengintip, dia juga melihat Lala. Lalu keduanya kaget.

Pertemuan kedua adalah ketika Lala dilamar. Dia datang bersama orang tua dan beberapa kerabat. Ummi dan Abah juga ada. Sebagai fasilitator. Tidak ada pesta lamaran seheboh Raissa dan Babang Hammish. 
Seminggu dari acara lamaran Lala menikah. Akad nikah ini adalah pertemuan ketiga. Semua urusan menikah dipersiapkan oleh Ummi dan Abah. Dengan persiapan satu minggu. 
Meskipun satu minggu semua berjalan lancar. Nikah itu mudah dan murah. Yang mahal, ketering dan resepsinya. Begitu kata Lala saat itu. Saya jadi curiga. Jangan-jangan itu pesan titipan Mamah. 

Prestasi Lala ini membuat Mamah langsung mengambil tindakan konkrit. Sebagai seorang ibu dia merasa perlu melakukan langkah-langkah yang signifikan untuk menyelamatkan putrinya. Mengingat sampai hareee geeeneee, belum menampakan tanda-tanda akan ada yang melamar. Langkah Mamah sebagai berikut :



1.     Menjadikan Lala sebagai Role model.  Succes Story Lala diceritakan berulang kali. Secara kasar mirip-mirip tindakan cuci otak kali yaa... Berharap anak gadisnya ini bisa terinspirasi dengan kehebatan Lala. Selain takut dibilang iri, saya takut kualat juga. Makanya tidak terlalu banyak protes. Inti dari misi succes story ini adalah,"ngapain pacaran lama-lama. Kredit panci saja maskimal 6 kali cicilan." OK Fix! setelah dibandingkan dengan KPR, durasi pacaran dibandingkan pula dengan kredit panci. 
2.     PDKT pada Ummi. Ya, mungkin bisa membantu mencarikan jalan keluarnya. Biar anak Mamah gak pemilih. Sudah gitu suka ganti-ganti, semudah seperti mengganti karet behel gigi.

Kira-kira begitu Mamah menyikapi kesuksesan Lala. Mamah saja sudah cukup. Tidak perlu bantuan media sosial untuk urusan begini. Mamah tidak perlu mengumpulkan dukungan dari orang-orang yang ada di sekitar kami.   Semua akan berlalu. Sabar saja, disyukurin.
                                         **Syukuriiiiiiiin!!  

 
www.babad-bidadari.blogspot.com
sumber : oddstuffmagazine[dot]com
Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan Lala. Menuntun anaknya yang akan masuk TK A. Hari itu, hari pertama sekolah. Entah yah kalau di tempat lain. Kalau di Bandung agak luar biasa sambutan hari pertama sekolah. Jika di kawasan itu ada sekolah apalagi sekolah swata dipastikan akan macet. 

Penyebabnya karena kasih sayang orang tua yang mengantarkan anaknya menggunakan mobil. Satu anak, satu mobil. Mobilnya bukan semacam city car yang kecil imut tapi sejenis SUV.  Mobil yang berbadan besar. Boros ruang untuk jalanan yang se-iprit. Mereka keluar masuk, mundur-maju parkir. 

Hal kedua penyambutan hari pertama sekolah adalah emak-emak motoris membawa anak bersusun-susun. Keluar dari gang, menyembur seperti meriam. Tanpa lihat belakang. Tanpa lirik kanan-kiri. Tanpa sen. Tanpa helm. Langsung meluncur. Jadi untuk pengendara di sekitarnya yang melewati gang atau jalan-jalan kecil diharap waspada. 

www.babad-bidadari.blogspot.com
sumber : Mice Cartoon

 Oh ya, Lala bukan keduanya. Bukan emak motoris atau yang mendelegasikan anaknya untuk diantar jemput sopir. Dia berjalan kaki. Sama seperti saya. Sekitar lima menit waktu tempuhnya. Waktu yang cukup bagi saya dan Lala untuk bernostalgia.

"Jangan karena umur, atau teman-teman yang lain mengolok-olok kamu karena belum menikah. Menikah dengan alasan itu tidak tepat."
Itu adalah pesan tersirat dari pertemuan saya dan Lala beberapa hari terakhir. Pesan itu tidak ditujukan untuk orang lain. Untuk Lala sendiri. Yang ingin dia bagikan.

Sejujurnya saya sedih mendengar kabar perpisahan mereka. Saya tidak ingin mengorek lebih jauh apa penyebabnya. Hal itu biarkan saja Lala yang menyimpan. Dengan keadaan agak terkaget-kaget saya mensupport usaha Lala mengatasi perceraiannya. Pasti tidak mudah untuk mengambil keputusan kearah sana. Lebih mudah memutuskan menikah dengan orang yang bertemu tiga kali.


"Jangan dengarkan apa kata tetangga," ujar saya berkelakar. Padahal pengalaman pribadi juga sih.☺
Pedih lah, kalau diceritakan mah. Jadi mending enggak.


Kabar dari Lala tidak saya sampaikan ke Mamah. Jika dia sudah mengetahui sendiri ya, itu bukan dari saya. Yang jelas kabar itu tidak saya gunakan untuk menyerang balik Mamah. 
Di luar sana juga banyak yang langgeng perkawinannya dengan pertemuan singkat. Tak sedikit pula yang pacaran lama tetapi mengalami pernikahan singkat.
Jika diantara kamu yang pernah merasa tertonjok ketika ada seseorang yang menikah dengan pertemuan singkat. Sedangkan kamu merasa terlunta-lunta. Ah, sudah lah.....
Tuhan sudah menetapkan mekanisme untuk tiap orang dalam bertemu jodohnya. Begitu pemikiran saya mah.  

note : seperti biasa Lala nama samaran.



5 komentar:

  1. Saya pun menikah dengan suami dengan pertemuan yang singkat mba. 4 x pertemuan langsung di khitbah dan bulan depan kita menikah. Cepet sekali proseanya. Ttapi saya bertatap langsung dengah wajah suami saya ketika taaruf itu. Saya lebih suka cara seperti ini daripada ketemu laki2 yang sukanya PHP ein perempuan tapi ga dinikah2in atau pacaran lama2 ga jelas. Kasian jg k cw nya, suka korban perasaan. Tetapi memang benar seperti mba katakan taaruf itu nggak menjamin pernikahan bahagia atau lewat pcaran jg ga mnjamin itu bahagia. Tetapi paling tidak jika kita menikah sesuai dengan ketetapanNya, in sha Allah, Allah pun ridho n berkah. Saya malah menyesal setelah menikah dengan suami, menyesal kenapa nikah n ketemu suaminya nggak dari dulu aja hihihi. Nikmat sekali pacaran setelah menikah itu selain halal,Allah pun ridho karena di dalam islam sendiri pacaran tidak diperbolehka. Semua kembali ke individu masing2. Sama seperti mau berjilbab atau tidak kembali lagi k kitanya masing. Mungkin begitu x ya mba. Ini hanya berbagi aja 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bunda sudah mampir dan berbagi

      Hapus
  2. Susah susah jengkel kalau menikah hanya tahu sedikit ttg calon pasangan. Pas udah menikah ketahuan sifat aslinya masa mau ngalah terus? Parahnya anak makin besar jadi berpengaruh juga... Seolah ngajarin pasea yang baik itu bagaimana hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...Pasea yang sesuai SOP.

      Hapus
  3. Setuju..menikahlah dengan alasan yang tepat.

    Kalo kata saya sih kelanggengan sebuah pernikahan tidak bergantung pada apakah nikahnya lewat taaruf atau pacaran dulu. Tapi bergantung pada komunikasi dan sejauh mana suami-istri kuat untuk terus melanjutkan kehidupan bersama. Kalo ditulis gini terlihat mudah, padahal syulit..haha..

    Ta2t

    BalasHapus